sejarah
Hari ini Rabu tanggal 22 October: Catatan masalalu adalah guru kita hari ini
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (68 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 8438
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 59598
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 247022
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 448619
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 370429
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 359214
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 447795
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 364772
  • PDRI , PRRI dan Sjafruddin Prawiranegara - 432712
  • PRRI di nagari Tanjuang Sungayang - 462457
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya
  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)
  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • PERLU
    KISAH PRIBADI
    Telah dibaca oleh: 36135 orang.

    Candi: Budaya Kuburan

    Dikarang oleh : admin

    Tanggal 24 Sep 2006, Sdr. Syafruddin Ujang (syaf_al@yahoo.com) menulis di rgm_gm@yahoogroups.com catatan perjalanan dari Bandaneira, tempat pembuangan Bung Hatta, Sjahrir dkk. oleh kolonialis Belanda.
    Beliau mempertanyakan, mengapa tidak ada jejak para pahlawan nasional (Tan Malaka, Syahrir, Hatta dll.) di Minangkabau.

    Kondisi semacam ini hanya bisa kita pahami melalui dialektika budaya Minangkabau itu sendiri yang berbeda dengan pemahaman budaya lainnya (terutama konsep budaya Jawa yang dikembangkan oleh Soekarno dan Suharto di Indonesia selama empat dekade. Tan Malaka menyebutnya sebagai budaya Candi atau pemujaan kuburan).
    Berikut saya kutipkan puisi Rusli Marzuki Saria dari novel Tambo, karya Gus tf Sakai:

    Aku tak tahu apa nasib Imbang Jaya
    setelah pergumulan malam
    Sang puteri rait entah ke mana
    di abad-abad yang tenggelam

    Beri aku Tambo
    jangan Sejarah
    Karena yang pertama ada riak menjarah
    sedang yang kedua sepi dari Hero

    Beri aku Tambo
    jangan Sejarah
    Aku ingin tuak penuh ragi
    dan tidak bangkai-bangkai yang menyerah!

    Budaya Minangkabau bukan tidak mengakui pentingnya manfaat sejarah, akan tetapi tambo (gabungan antara fakta dengan khayalan/dongeng) lebih manusiawi untuk ketentraman masyarakat.
    Tambo bernilai dua (cupak nan Duo), yaitu kualitatif dan kuantitatif atau raso jo pareso.

    Sebaliknya sejarah penuh dengan bukti-bukti (pareso) kepahlawanan maupun pengkhianatan individu/orang per orang, yang mengakibatkan manusia lainnya terpaksa menghormati/membenci para pelaku sejarah tersebut.
    Bahkan tak jarang produk sejarah menghasilkan manusia setengah dewa.

    Buktinya, saudara-saudara kita di pulau Jawa ada yang bersedia meminum air bekas cuci kaki Ny. Mg, cap jempol darah untuk menghormati anak-turunan Soekarno yang notabene setaraf dengan Hatta di Minangkabau.
    Bukankah setiap manusia itu derajadnya sama di hadapan Allah.

    Selanjutnya Sdr. Syafruddin Ujang menulis: .....malah, lebih mengecewakan lagi, gelar datuk yang pernah diberikan Gubernur Harun Zain akhir 70-an untuk Bung Hatta, pun dipersoalkan. Sementara, sekarang ini gelar-gelar itu sudah berserak ke mana-mana.

    Datuk di Minangkabau adalah gelar kepala kaum pada suatu suku.
    Suku berada di nagari. Kalau tidak pada kaum, dan tidak pada suku, dan tidak pula di nagari maka logikanya tentu tak ada pula gelar datuk yang bisa diberikan.
    Pertanyaannya, mengapa gelar datuk bisa berserak kemana-mana saat ini, termasuk kepada seorang bupati/politisi, silakan tanya kepada yang memberikan ...!

    Pemberian nama universitas untuk mengabadikan nama bung Hatta, telah sesuai dengan martabat /penghargaan masyarakat Minangkabau untuk beliau.
    Nama Hatta akan lebih bermaanfaat lagi untuk generasi yang akan datang apabila universitas tsb. mampu mensejajarkan diri dengan MIT, Oxford, Cambridge, Utrect atau untuk jangka pendeknya setaraf dengan UGM atau UI, .....insyaalah!

    Berbeda dengan di tempat lain yang pemerintahannya bekas kerajaan/melegalisasi kekuasaan pisik manusia/raja (Ingat ungkapan: Luak bapangulu, rantau barajo).
    Di Malaysia sebutan datuk bisa diberikan kepada orang-orang yang berjasa dalam masyarakatnya. Jadi datuk di Minangkabau berbeda dengan datuk di Malaysia.
    Begitu pula di Jogya, Solo, Inggris raja bisa memberikan gelar KRT, RM, Sir dsb. kepada anggota masyarakat yang berjasa.

    Saya bukan tidak setuju pemberian gelar tersebut (......yang memakan biaya besar), tapi letakkanlah gelar-gelar itu sesuai dengan peruntukannya, cocok dengan terminologi budaya nenek moyang kita yang memiliki dialektika, logika, sistematika tersendiri.
    Saya yang tidak bermukim di kampuang, kurang begitu mengetahui eksistensi maupun fungsinya datuk saat ini di nagari-nagari Sumbar. Apakah datuk saat ini, masih berfungsi sebagai kepala kaum yang melindungi sekaligus menjadi ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito dari kemenakan-kemenakannya

    Pd tanggal 3 - 6 September 2006, mendahului pertemuan ASEM di Helsinki, diadakan pula The Asia-Europe People's Forum (AEPF) di tempat yang sama, dan diikuti oleh 400 aktivis masyarakat sipil dari kedua benua tersebut.

    Ada kesimpulan penting yang perlu diketahui oleh urang awak yang berbudaya Minang berbunyi sbb:Jika saja manusia mau belajar dari sejarah, maka mereka tidak akan membangun kekuasaannya di atas persenjataan militer. Dalam sejarah peradaban manusia, penggunaan kekerasan dan kekuatan militer lebih banyak efek merusaknya daripada membuat dunia lebih damai.

    Bandingkan ungkapan tersebut dengan kalimat-kalimat novel Tambo (hal 66), karangan Gus tf Sakai sbb:
    Tak kupercaya, kata kakakku, Luhak nan Tigo, kini, seperti kayangan.
    Saat itu awal tahun baru, Januari 1361. Musim hujan baru saja lewat dan bumi Pagarruyung, Alam Minangkabau kami, seolah serupa disepuh.
    Bukankah berkat anggaran tentara yang kita alihkan kataku menanggapi.
    Betapa lain rasanya setelah sekian tahun tak ke medan perang, gumam kakakku kemudian.
    Angkatan perangku, di wilayah rantau, tergeletak begitu saja seperti tak berguna, Dinda, padahal mereka terus menelan biaya.
    Sudah kukatakan, Kanda, bubarkan saja mereka. Biarlah mereka memilih kehidupan mereka sendiri.
    Kakakku Datuk Katumanggungan, atau Sutan Marajo Basa, atau Aditiawarman, atau Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa, menghela napas.
    Tidak, Adinda. Alam Minangkabau boleh tak berangkatan perang, tapi Pagarruyung harus. Masih kuwaswasi: Akan selalu ada alasan bagi seorang untuk menaklukkan orang lain.

    Kesimpulan:

    Kondisi Alam Minangkabau yang dilukiskan novel tsb. tetap abadi sepanjang jaman, bahkan telah meluas sampai ke Helsinki.
    Akan tetapi Kerajaan Pagarruyung (harap dibedakan dengan nagari Pagarruyung) saat ini mungkin telah berubah bentuk menjadi Kecamatan Saruaso atau Kabupaten Tanah Datar atau provinsi Sumatera Barat atau bahkan menjadi negara Republik Indonesia yang 20% - 30% rakyatnya hidup dalam kondisi miskin, berebut, mengamuk (di daerah lain ada yang mati) menerima BTL kompensasi BBM.

    Dan yang lebih mengherankan pula, partai (organisasi masyarakat yang menyenangi militerisme) mendapat tempat pula dalam kehidupan perpolitikan di Sumbar.

    Fenomena pemberian gelar untuk orang-orang yang sedang berkuasa (pejabat tentunya..!) tak lepas dari kalkulasi si pemberi gelar, bukan untuk pengembangan budaya Minangkabau jangka panjang.

    Masyarakat di daerah lainnya mampu pula memberikan gelar yang serupa tapi tak sama kepada para penguasa/politisi karena mereka lebih banyak pitih untuk pesta-pesta semacam itu.
    Apakah kegiatan seperti itu merupakan suatu prestasi ..... tergantung dari sudut pandang kita masing-masing.


    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH || WISRAN HADI
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px