|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Telah dibaca oleh: 1736 orang.Tindak Lanjut Rekomendasi WSISDikarang oleh : Abraham Ilyas
Peranan Gebu Minang
dalam mendukung otonomi nagari (Minangkabau) melalui internet Membangun
infrastruktur komunikasi multimedia di antara sesama anak-nagari melalui situs
komunitas www.nagari.org Istilah-istilah:
. Tujuan Gebu Minang Untuk memberantas kemiskinan, kebodohan, dan
keterbelakangan dengan cara meningkatkan taraf hidup
dan kualitas hidup masyarakat Masalah-masalah 1. Kekaburan pemahaman/pengunaan istilah-istilah yang digunakan oleh masyarakat. Kekaburan istilah ini berakibat tidak fokusnya program-program yang dibuat. Siapa bertanggung-jawab apa menjadi tidak jelas! Ibarat seseorang menafsirkan al Qur'an yang tidak menguasai ilmu syaraf dan nahwu maka tafsir ayat tersebut bisa salah. Minangkabau tidak bisa dipisahkan dengan Sumatera Barat, akan tetapi harus bisa dibedakan diantara keduanya. Nagari
(yang telah diakui UU NKRI) adalah Minangkabau, sedangkan Sumatera Barat
berikut kabupaten serta kecamatannya adalah bagian dari pemerintah R.I. yang
statusnya sama atau bahkan kurang dari
propinsi-propinsi/ daerah lainnya di Keterpurukan nagari berarti keterpurukan urang awak, sebaliknya kemajuan SDM dari SB, maka itulah kemajuan orang Minang. Kemajuan
budaya-masyarakat Minangkabau tak bisa diukur dengan banyaknya berdiri
hotel-hotel, mal-mal, objek- objek wisata atau menjadi metropolitannya Hal semacam itu adalah urusan pemda Sumbar (yang mengurus
kepentingan/memfasilitasi pemerintah Republik 2. Menyangkut urusan nagari ini, ada istilah-istilah penting yang perlu mendapat perhatian dan disepakati pemahamannya seperti: ranah minangkabau, orang Minangkabau, anak-nagari, kampuang dan rantau, anak-kemenakan. Empat dekade kita tak lagi mengenal istilah anak-nagari atau istilah urang nan ampek jinih yang menjadi pilar eksistensi budaya Minangkabau (yaitu manusia-manusia yang menjadi subjek sekaligus objek pembangunan). Istilah anak-nagari perlu kita ingatkan kembali untuk memperkuat tanggung jawab mereka kepada tanah-airnya. Pengertian istilah-istilah di atas belum terpolusi oleh budaya daerah lainnya, karena nagari hanya ada di Sumatera Barat, tidak di daerah lainnya. Saya bukan tidak setuju menggunakan kata rantau. Kata rantau sudah digunakan pula oleh suku-suku lain sehingga maknanya tidak akan sama dengan pengertian rantau oleh orang Minangkabau. 3. Strategi membangkit "harga diri" atau mambangkik batang tarandam yang digaungkan Gebu Minang tentunya bertolak belakang dengan "program kompensasi BBM" dan "raskin" yang dilakukan pemerintah RI. Pemerintah saat ini menjadikan rakyatnya sebagai orang-orang lemah, tak berdaya namun mampu mengamuk bila tak diberi sedekah. Apakah pemda Sumbar (daerahnya yang dihuni oleh sebagian besar orang Minang) berhak mengubah cara penyalurannya. Disinilah masalahnya, perlu diperjelas perbedaan antara orang Minangkabau dengan orang (manusia) Sumbar. Siapa, bermasalah apa, dan siapa yang bertanggung jawab (apakah orang Sumbar atau orang Minang, dan siapa yang disebut orang Minang itu). Catatan: Orang Minang tak akan pernah meminta bantuan kepada orang lain, selain kepada mamaknya ! 4. Kompas, 30 Nop. 2005 menuliskan saat ini ada 54.000 (lk 100 per nagari) bayi - balita yang kurang gizi, dan juga hasil UAN 2005 di Sumbar yang tidak memuaskan. Akan sulit melaksanakan meningkatkan mutu pendidikan di Sumbar (Tanggapan untuk topik Program Prioritas: Penyebaran Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan/ SDM Minangkabau melalui Peningkatan Mutu Guru). Untuk lebih jelasnya lihat di www.nagari.org/masalah.html dan palanta.phpno 71, palanta.phpno76 dan sistematika.swf). 5.
Beberapa kali Khusus untuk Perguruan Tinggi penghasil pencari kerja tersebut perlu mengevaluasi diri dengan pertanyaan kenapa hal ini tajadi. Ibarat petuah lama, apakah ada kesalahan bundo manganduang. Misalnya ketika ibu hamil kekurangan gizi, tidak menimbang badan, maka bayi yang dilahirkan berpenyakitan sampai dewasa, yang sulit untuk diobati. Seandainya
dari jumlah ini sebanyak 5000 orang dari mereka berasal dari kampuang-nagari
(sisanya, 15.000 berasal dari penduduk
Pemecahan
masalah 1. Otonomi nagari merupakan kesempatan emas bagi urang awak di manapun dia berada untuk kembali kejatidiri (sesuai dengan petatah-petitih yang diwariskan oleh nenek-moyang mereka) di tengah-tengah carut-marutnya pergaulan antar umat manusia (termasuk negara kita saat ini). Membangun Sumatera Barat harus sesuai dengan budaya Minangkabau secara total. 2. Setiap nagari mendata Sumber Daya Manusia (anak-nagarinya) yang berada di kampuang maupun di perantauan. SDM yang telah mendapat pendidikan S1 diajak untuk urun rembuk (baiyo-batido) dengan topik membangun nagari sesuai dengan tolok ukur HDI. Data ini diupload ke situs nagari saibernya masing-masing. Pemda agar memfasiltasi masyarakatnya untuk bangun, bukan dengan memberi sedekah konsumtif seperti kompensasi BBM/raskin (kecuali ketika terjadi bencana alam). 3. Berdasarkan kriteria HDI ini maka tugas-kewajiban yang cocok untuk anak-nagari (dalam hal ini Gebu Minang) ialah membangun SDM yaitu bidang Pendidikan dan Gizi balita untuk perkembangan otak. Sedangkan untuk bidang pembangunan ekonomi-fisik atau menaikan
income pendapatan masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah c.q Kecamatan,
Bupati, Gubernur, 3. Kegiatan semacam ini membutuhkan sistem komunikasi masakini yaitu multimedia atau internet. Dengan kata lain, memahami komputer-internet serta mampu berbahasa Inggris adalah fardu ain untuk seseorang yang telah bersedia menyandang gelar sarjana masakini. Kalau dua hal tersebut tak dikuasainya, maka seyogyanya dia malu atau melepaskan saja gelar tsb. Multimedia (software dan hardware serta sekolah-sekolahnya) agar menjadi fokus pembangunan di Sumatera Barat 4.
Setiap sekolah yang berada di ranah seharusnya sudah melaksanakan gagasan
mantan bupati Tanah Datar (Martunus Masriadi), One Schooll One Laboratory
Computer. Hal ini sejalan dengan gagasan Nicholas Negroponte (Media
Lab/MIT) pada WSIS (World Summit on Information Society/PBB di Tunisia tg. 16 -
19 Nopember 2005; catatan: salah seorang pesertanya adalah anak-nagari
Tanjuang-TD dari UI) yang menggagas One Laptop per Child dengan harga
100$ atau 1 juta rupiah saja.
Dunia
kini dan masa-depan dikuasai oleh penguasa multimedia. Nan Duo multimedia ialah: hardware dan software. Kita tak akan mampu menjadi pemain dalam bidang hardware (contoh kecilnya, tak ada toko elektronik or. Mk atau pribumi apalagi industrinya). Sebaliknya kita bisa mendidik anak-kemenakan kita menjadi programer (software) yang bisa berkiprah tanpa batas dengan modal seadanya. Program Open Source Indonesia seharusnya ditanggapi secara
serius oleh anak-nagari Minangkabau. Pemda SB dan
Perguruan Tinggi sebaiknya tanggap untuk menjadi lokomotif, dan tidak perlu
menunggu kebijaksanaan pusat yang selalu berpedoman pada perimbangan
keuangan/pembangunan Walaupun
saat ini akses internet belum mampu mencakup nagari-nagari, namun anak-nagari
bisa mengakses nagari-saibernya dari ibukota kabupaten atau dimana saja di Sebagai langkah awal, penulis sejak tiga tahun yang lalu telah
menampilkan sistem komukasi antar anak nagari di dalam www.nagari.org.
Sayangnya tanggapan anak-nagari untuk membangun nagarinya masih kurang,
meskipun sudah ada Diharapkan peranan Gebu Minang untuk menyadarkan orang awak untuk Babaliak ka nagari, kambali ka surau, ke adat nan tak lapuak dek hujan dan tak lakang dek paneh. Kesimpulan (Anak
dipangku, kamanakan dibimbiang).
Sebagai orang Minang yang selalu memakai pedoman hidup raso jo pareso maka
pemahaman sifat-sifat di atas perlu diketahui.
Dari 8 jenis aktivitas keseharian yang dilakukan oleh seorang manusia dalam
kehidupannya, yang ujudnya adalah merealisasikan sifat raso jo pareso, maka
komputer tidak kenal nilai raso (no. 7, 8). |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.org This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px |