|
|||||||||||||
Telah dibaca oleh: 1272 orang.Inilah PerasaanDikarang oleh : Admin nagari.orgSuatu ketika penulis maota dengan seorang walinagari, yang katanya nagarinya terletak di bawah bibir gunung Merapi, yaitu nagari Andaleh. Saya yang kini tak terbiasa lagi mendengar istilah semacam itu menangkap kalimat yang dia ucapkan, betul-betul mencerminkan logika alam terkembang jadi guru, intelektual alami Beliau berceritera ketika melaksanakan UU no. 5 th. 1979 timbul masalah besar saat membagi nagari menjadi dua desa. Untuk menghindari bentrokan maka dicarilah dialektika yang mencerminkan nilai keamanan, dengan memberi nama Karang Taruna di desa tersebut Cinta Damai. Kini dua dekade kemudian, nagari dimunculkan kembali. Generasi yang tak kenal banagari, meskipun mereka berdiam di nagari. Mereka selama ini ini hanya mengenal desa. Desa adalah model wilayah pemerintahan di tanah Jawa yang dicoba dipakai untuk seluruh Indonesia. Ada banyak perbedaan antara sistem desa dengan nagari, meskipun adapula persamaannya. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah tentang kaum atau suku. Di desa warganya tak punya suku atau kaum, sedangkan di nagari hal tersebut merupakan sesuatu yang mutlak adanya. Perasaan dan pemahaman bernagari mungkin lebih kental tertanam pada para perantau yang pergi meninggalkan nagari sebelum tahun delapan puluhan. Kawan penulispun menceritakan hal demikian. Katanya, saat ini para anak muda di rantau, yang baru datang dari kampuang "cuek" saja terhadap orang-orang senagari mereka. Adalah tugas para sarjana Perguruan Tinggi di Sumbar untuk mamareso, apakah kesejahteraan nagari sebelum UU no. 5 th. 1979 lebih baik, apabila dibandingkan dengan tahun sesudahnya, untuk memperkuat argumentasi (perasaan) yang menjadi pertimbangan Perda. no. 9 th. 2000. Apabila pareso ini telah tampil dengan dukungan angka-angka nan Bana, barulah dapat dikatakan kito sudah mamakai raso jo pareso yang sesungguhnya.
Ketika tulisan ini dibuat, anak saya- mahasiswa di LN, yang tak mengenal "sistem nagari" bertanya, apa yang akan dapat membedakan antara nagari dengan kota di jaman digital yang tidak mengenal batas teritori ini. Hulunyo ado di tangah rimbo Dalam lahie ado batin Dalam batin bahakikat pulo. Dia tak paham arti dan makna pantun ini, karena bahasa pengantar yang dipakai di rumah bukan bahasa Minang. Karena semi telah tiba Di dalam lahir tersirat batin Dalam batin berhakikat pula Apakah dia menjadi lebih mengerti atau tidak, entahlah, tak saya tanyakan lagi.
|
|||||||||||||
|
Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.org This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px |