Telah dibaca oleh: 170651 orang.17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI
Dikarang oleh : H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati Sitalang PRRI
Kisah anak nagari Sitalang yang berjuang membela PRRI
Dikarang oleh: H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati
Diedit html oleh: H. si Am Dt. Soda

H. Bustanuddin St. Kayo, 0813 1163 9317
Pembukaan
Melengkapi riwayat cerita PRRI
Noor Indones Sutan Sati
Beserta Abraham Ilyas, dokter gigi
Meminta aku untuk bersaksi
Berbentuk syair cerita ditulis
Berisi kisah bermacam jenis
Antara tawa dengan tangis
Mungkin urutannya tidak sistematis
Supaya jelas profile pengarang
Aku asli orang Sitalang
Ketika lahir di rantau orang
Pulang ke kampung setelah bujang
Ada pula saudaraku di Jambi
Di kota Bangko bersama Umi
Dia juga membela PRRI
Begitulah keyakinan keluarga kami
Kucoba ingat dalam renungan
Lama hidup banyak dirasakan
Jauh berjalan beragam penglihatan
Semua kejadiaan seizin Tuhan
Dalam kehidupan sehari hari
Agar tak kufur nikmat Ilahi
Gembira dibuat pelipur hati
Saat musibah ingatlah Diri
Keadaan susah kalau kuingat
Iba hati teramat sangat
Terasa diri takkan selamat
Di antara peluru dan pecahan granat
Jika teringat masa sulit
Berlindung di gua, bertahan di parit
Hati dan jantung terasa sempit
Pikiran melayang sampai ke langit
Aku tersentak dari lamunan
Senang dan susah itu cobaan
Semua manusia pasti merasakan
Mungkin caranya yang berlainan
Nabi Muhammad telah bersabda
Untuk makhluk umat manusia
Menyembah Allah wajib hukumnya
Berbuat baik kepada sesama
Di dalam kitab Allah berfirman
Senang dan susah akan ditimpakan
Untuk manusia penguji iman
Begitu ayat di dalam Qur'an
Segera kuambil buku catatan
Naskah lama masih disimpan
Penuh berisi dengan tulisan
Tentang kegembiraan atau kesusahan
Catatan diambil lalu dibaca
Berisi tulisan yang lama lama
Ketika diri disebut pemuda
Mengembara di rimba lalu dipenjara
Kini umur tujuh puluh tiga
Hidup terasa cukup bahagia
Karena Allah Tuhan yang Kuasa
Melimpahkan nikmat tiada terkira
Tentang biaya hidup sehari hari
Dari anakku bijak bestari
Dua putera dan dua puteri
Setiap saat siap memberi
Aku pindah ke ruang kerja
Duduk di kursi menghadap meja
Dicoba menulis apa yang ada
Sebelum ajal menjemput usia
Menetapkan pilihan
Lima puluh enam tahun yang lalu
Aku belajar menuntut ilmu
Di SGB sekolah guru
Engku Burhanuddin nama guruku
SGB III di kota Padang
Letak gedungnya di Simpang Kandang
Daerahnya ramai alang kepalang
Diri belajar sangatlah senang
Tempat tinggal di kampung Palinggam
Semua tetangga beragama Islam
Suraunya bernama langgar al Ihram
Sering pengajian malam malam
Tinggal menumpang di rumah saudara
Dunsanak sepupu orang bijaksana
Kantornya terletak di pelabuhan Muara
Dia pegawai Kas Negara
Saudara sepupu Achmad Zaini
Isterinya bernama Siti Nurani
Keluarga sakinah hidup islami
Gajinya cukup sangat memadai
Adik sepupu sangat dimanja
Menumpang di rumah tanpa menyewa
Tugas yang pokok belajar saja
Hari Ahad kadang berwisata
Suatu saat ke Simpang Aru
Ada mamak, adiknya ibu
Syair St. Makruf tinggal di situ
Lemarinya penuh berisi buku
Mak Syair aktifis Masyumi
Bicara politik sepanjang hari
Walau ekonomi kurang memadai
Bukan halangan ketika berbakti
Pernah terjadi suatu ketika
Mamak mengajak ikut serta
Melayani tamu pemimpin bangsa
Muhammad Natsir dari Jakarta
Aku diberi selembar kartu
Sebagai bukti penerima tamu
Disuruh berdiri di samping pintu
Menjawab pertanyaan kalau perlu
Lalu diadakan rapat terbatas
Masuk ruangan tidaklah bebas
Natsir berpidato secara jelas
Semua hadirin sangat antusias
19 56 waktunya lupa
Natsir bicara apa adanya
Ummat Islam menghadapi bahaya
Inilah cobaan Allah ta'ala
Akan diindang, ditampi teras
Biar terpisah padi dan beras
Kaum muslimin haruslah tegas
Orang Komunis sedang mengganas
Dengan serius Natsir berqalam
Ibarat Ikan di dalam kolam
Dilempar batu jatuh ke dalam
Ummat Islam sedang terancam
Akan terjadi suatu drama
Ummat Islam harus waspada
Maju kena, mundurpun kena
Kepada Allah kita berdoa
Tiada perlu berpikir lama
Ummat Islam siaplah segera
Membela negeri, tanah tercinta
Diancam Komunis anti agama
Ada ditulis di koran koran
D.N. Aidit pernah mengatakan
Orang P.K.I anti Tuhan
Hatiku geram tiada tertahan
Membaca syair mungkin bosan
Tapi cerita perlu diteruskan
Eseipun ditulis dalam karangan
Silakan dibaca untuk dipikirkan
1. Pemilu 1955 menghasilkan 4 partai yang mendapat suara terbanyak: yaitu PNI, Masjumi, NU dan PKI. Masyumi menang di luar
Jawa sedangkan PNI, NU dan PKI mendapat suara terbanyak di pulau Jawa.
2. Presiden Soekarno memilih PNI untuk memimpin kabinet/pemerintah dengan mengikutsertakan/merangkul PKI. Hal semacam ini
ditentang oleh Masyumi karena kaum Komunis anti Tuhan dan menghalalkan kudeta untuk meraih kekuasaan, ..... dengan kata lain
PKI anti demokrasi. Ketika itu Masyumi tidak menuntut agar PKI dibubarkan, bahkan di kemudian hari hal yang sebaliknya
terjadi; yaitu Masjumi dan PSI dibubarkan. Kelak di tahun 1966 PKI dibubarkan oleh Jenderal Suharto sedangkan pada saat yang
bersamaan presiden Soekarno tidak mau membubarkan PKI walaupun jelas jelas terlibat pemberontakan PKI/G30S.
Sebagai pemuda usia belasan
Di dalam hati aku tekadkan
Membela Islam jadi pilihan
Biarpun nyawa jadi taruhan
Walau hidup masih membujang
Tamat SGB di kota Padang
Hatiku gembira tidak kepalang
Menjadi guru sangatlah senang
Mendapat tugas mengajar di kota
Di Payakumbuh sebelah Utara
Sekolah Rakyat istilah lama
Mendidik murid di kelas lima
Radilas Fanani kepala sekolah
Mulutnya manis kucindan murah
Kalau bicara selalu ramah
Apa katanya tak pernah kubantah
Sembilan orang teman seprofesi
Empat pemuda, lima pemudi
Kami mengajar setiap hari
Mendidik siswa sepenuh hati
Nikmat Allah sangat terasa
Setiap hari berhati suka
Sambil mengajar, belajar pula
Mengikuti kursus di K.G.A
Keadaan yang berubah
Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat
Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan
Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah
Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak
Soekarno marah bertambah berang
Tentara dikirim untuk berperang
Sumatera Tengah akan diserang
Target utama ke ranah Minang
Dari laut dan dari udara
Kota Padang sasaran pertama
Dijatuhkan bom membabi buta
Banyak korban mati dan luka
Karena kota kini tak aman
Badan diri wajib diselamatkan
Gaji terhenti tak bisa makan
Lalu berunding sesama teman
Menyusul kota diduduki APRI
Tiada perintah, tanpa koordinasi
Ke kampung kampung rakyat mengungsi
Berbondong bondong berjalan kaki
Ke Sitalang pergi mengungsi
Didalam kecamatan Ampek Nagari
Disitu bermukim sanak famili
Mereka bekerja sebagai petani
Nagari Sitalang Barajo Sorang
Di kaki gunung beriklim sedang
Penduduk ramah sangat periang
Kepada dunsanak sangat sayang
Semua orang taat beribadah
Untuk kebaikan mau mengalah
Perbuatan mudarat langsung dicegah
Ketika berusaha pantang menyerah
Ke Pasaman mendaftar jadi sukarelawan PRRI
Pada akhir tahun 58
Enam bulan waktu berjalan
Aku berada di kampung halaman
Kini datang suatu kesempatan
Kesempatan baik untuk berbakti
Menjadi sukarelawan pejuang PRRI
Pergi berperang menyelamatkan negeri
Dari serangan tentara APRI
Di Ujung Gading dekat lautan
Di sana bermarkas induk pasukan
Kompi KKO diberi sebutan
Letnan Isrul sebagai komandan
17 pemuda berbadan sehat
Percaya diri penuh semangat
Lalu berkumpul mengadakan rapat
Ingin berperang melawan Pusat
Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
Setelah berkumpul sambil berunding
Siap berangkat ke nagari Silaping
Dekat pantai di Ujung Gading
Para remaja anak bujang
Dari Batu Kambing dan Sitalang
Ke rantau Pasaman pergi berperang
Namanya ditulis untuk dikenang
Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin, Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin,
Paramai, Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih - 1 nama !
Pagi hari sebelum berangkat
Calon pejuang diberi nasehat
Dilanjutkan doa kaum kerabat
Kembali pulang dengan selamat
Selesai bermohon kepada Tuhan
Para remaja mulai berjalan
Masuk hutan ke luar hutan
Hanya berhenti ketika makan
Walau kaki beralas sandal
Baju di badan banyak bertambal
Niat berjuang sejak awal
Bukan ambisi ingin terkenal
Berjalan kaki beriring iring
Ada yang gemuk banyak yang langsing
Melewati jalan di tepi tebing
Bila tergelincir jatuh terguling
Saat melewati banyak nagari
Sumadang, Gudang, Tapian Kandi
Padang Gantiang, Padang Sawah dan Kinali
Terasa berada di kampung sendiri
Ninik Mamak datang menyambut
Diikuti orang tua berusia lanjut
Berjabat tangan berebut rebut
Meskipun malam telah larut
Ketika sampai di batang Masang
Sungai besar airnya tenang
Rombongan berhenti karena terhalang
Tiada titian untuk menyeberang
Penduduk bertanya kepada yang tua
Ke mana tujuan para pemuda
Kami menjawab apa adanya
Hendak ke Pasaman membela negara
Karena rombongan pemuda PRRI
Semua orang ikut bersimpati
Rakit dipinjamkan oleh pak Haji
Makanan disumbang Amai dan Umi
Lanjutan kisah H. Bustanuddin yang bertugas di Pasaman, Riau sampai tertangkap di Naga Seribu Pd Bolak, Tapsel dan dipenjara
Tanjung Gusta Medan sedang disusun, tunggu untuk diupload
Hasan dan Husen saudara kembar gugur menepati janji
Untuk dicontoh para remaja
Menjadi teladan sampai tua
Hasan dan Husen tak berebut harta
Ketika berperang sesama saudara
Saudara kembar Husen dan Hasan
Bermuka mirip susah dibedakan
Hobinya sama, senang berteman
Ketika bergolak saling berlawan
Bukan karena dapat indoktrinasi
Tapi keyakinan hak azasi
Husen menjadi pejuang PRRI
Hasan bertugas di kesatuan APRI
Hasan dan Husen saling berhadapan
Ketika berperang dalam pertempuran
Keduanya tewas rela berkorban
Demi menjaga suatu kehormatan
Husen tewas mati terbunuh
Dalam pertempuran di nagari Situjuh
APRI yang datang dari Payakumbuh
Membawa prajurit berpuluh puluh
Dia sahid membela keyakinan
Bergabung PRRI dalam perjuangan
Menerima takdir ketetapan Tuhan
Jannatun naim sebagai balasan
Lain lagi tewasnya Hasan
Sebagai prajurit jadi teladan
Selalu patuh peintah atasan
Semua tugas dia laksanakan
Saat Hasan sedang bertugas
Untuk patroli di ujung batas
Pejuang mengintai di bukit atas
Hasan tertembak langsung tewas
Semua prajurit punya tradisi
Mengucapkan sumpah serta janji
Hasan contoh prajurit sejati
Melaksanakan sumpah menepati janji
Begini janji saat disumpah
Prajurit patuh pada perintah
Ketika bertempur haram menyerah
Instruksi komandan pantang dibantah
Dalam korps pasukan APRI
Hasan ternyata prajurit sejati
Menepati sumpah ketika berjanji
Hasan terbunuh saat beroperasi
Walau tiada ditampilkan foto
Inilah sedikit sebagai info
Hasan dan Husen bersuku Koto
Anak kemenakan Dt. Tan Bandaro
Bapaknya bernama Kari Sili
Seperti umumnya penduduk Nagari
Kerja di kampuang jadi petani
Sambil memelihara ternak Sapi
Mat Asan pahlawan tak dikenal dari nagari Sitalang
Mat Asan bujang pilihan
Tinggal di Sitalang tiada bosan
Terlalu banyak meninggalkan kesan
Bagi anak cucu jadikan teladan
Asan rajin dan sangat pintar
Guru heran ketika mengajar
Semua pertanyaan dijawab lancar
Dengan kawan senang kelakar
Bila guru menghitung salah
Asan langsung siap menyanggah
Kalau timbul ricuh dan telagah
Sering gurunya yang mengalah
Sifat sosialnya Allohu Robbi
Sanggup menolong petang dan pagi
Tak pernah dia meminta gaji
Terkadang orang ikhlas memberi
Keluarga Mat Asan orang tak mampu
Sawah tak punya, rumahpun bambu
Lima beradik bahu membahu
Menegakkan kaum bersatu padu
Jaman berperang melawan NICA
Tenaganya dipakai oleh tentara
Menjadi penyelidik atau mata-mata
Mengantar nasi dikerjakan pula
Perang selesai Mat Asan terlupakan
Tidak dihargai sebagai veteran
Lalu berjualan, pekan ke pekan
Menyambung hidup mencari makan
Ada istimewa pada Mat Asan
Bisa terlelap sambil berjalan
Meski di kepala ada beban
Tidur pulas sampai di tujuan
Saat pergi ke Lubuk Basung
Asan terbangun lalu ke warung
Tiada lagi beban yang dijunjung
Minum segelas, makan secambung
Pristiwa terulang di masa PRRI
Mat Asan kembali ikut mengabdi
Tugas utama mengantar nasi
Untuk pemimpin yang sedang mengungsi
Muhammad Natsir bersama rombongan
Pagi dan petang diantarkan makan
Biarpun gerimis ataupun hujan
Nasi tak mungkin ditahan tahan
Ada pada suatu ketika
OPR mengadu kepada tentara
Tentang Asan punya kerja
Dia ditangkap untuk diperiksa
Asan dibawa ke dalam hutan
Mata ditutup dengan sapu tangan
Jari diikat ke belakang badan
Lalu dipukuli sepanjang jalan
Penduduk Sitalang hati terluka
Dengan Mat Asan di akhir usia
Nyawa melayang di ujung senjata
Jasadnya hilang tak tahu rimba
Kepada orang Sitalang kami berpesan
Buatkan kuburan di pinggir jalan
Nyatakan dia seorang pahlawan
Hidupnya berjasa penuh kenangan
Walaupun di kampung dia mengabdi
Ikut berjuang membela pertiwi
Tidak berharap upah komisi
Itulah Mat Hasan pahlawan sejati
Karena penulis habis inspirasi
Kisah tak lagi berbentuk puisi
Cerita diteruskan dalam narasi
Kalimatnya disusun teratur rapi
Dukun Paranormal ikut mendukung perjuangan
Datuk Sati Durahman orang Sitalang
Mendukung PRRI tidak kepalang
Meski bukan tentara bersenapang
Semangat Datuk perlu dikenang
Tidak dipaksa, tidak disuruh
Membantu perjuangan secara penuh
Dilakukan masyarakat bersungguh sungguh
Ketika Sitalang menghadapi musuh
Anak nagari sangat percaya
Datuk Sati pendekar ternama
Sangat disegani banyak ilmunya
Memberi keyakinan kepada warga
Mamak dan Amai serta remaja
Orang Siak ataupun parewa
Ke batas nagari pergi bersama
Mengiringi Datuk sambil berdoa
Di batas nagari secara makrifat
Pagar Gaib lalu dibuat
Pedang diacungkan disertai niat
Tentara Soekarno tak bisa mendekat
Dalam suasana agak mistis
Saat turun hujan gerimis
Orang terharu ada yang menangis
Pedang diacungkan, tanah digaris
Ibarat tembok dinding tinggi
Peristiwa aneh penuh misteri
Kelak kemudian benar terbukti
Pagar gaib tak pernah dilewati
Tentara Soekarno ketika datang
Melalui Tantaman jalan yang lengang
Lalu turun ke nagari Sitalang
Kampuang dimasuki dari belakang
Bantuan Masyarakat
Saat terjadi pertempuran hebat
Di nagari Kamang sebelah barat
Kapten Bachtiar terluka berat
Kakinya tertembak peluru granat
Bachtiar ditandu berjalan kaki
Di jalan setapak rimba yang sunyi
Melewati batas banyak nagari
Menuju Sitalang untuk diobati
Karena kakinya terluka parah
Kondisi Bachtiar sangat lemah
Dia dipinjami sebuah rumah
Milik Usman Datuk Batuah
Bachtiar diungsikan ke Sitalang
Melewati rimba hutan terlarang
Dari Tantaman terus ke Gumarang
Rutenya berat tidak kepalang
Jalan setapak di dalam rimba
Dipakai orang sejak lama
Kini digunakan sipil dan tentara
Ketika mengungsikan korban yang luka
Waktu menempuh rimba hutan
Orang tua penunjuk jalan
Anak muda pembawa beban
Prajurit mengawal ada di depan
Rumah datuk sangat besar
Berlantai kayu beralas tikar
Di tepi jalan tanpa pagar
Kini dipinjamkan kepada Bachtiar
Meski Bachtiar orang jauh
Sedang dicari diintai musuh
Orang Sitalang ikhlas sungguh
Bachtiar diobati sampai sembuh
Enam bulan Bachtiar dirawat
Diberi jamu disertai obat
Sampai tubuhnya menjadi kuat
Melanjutkan perang melawan Pusat
Orang Ronda memiliki andil menjaga nagari
Karena takut dijadikan sandera
Penduduk kampung sembunyi di rimba
Mungkin sehari atau dua
Menunggu musuh pulang ke kota
Tugas utama orang ronda
Memukul Tontong tanda bahaya
Memberi tahu sanak saudara
Musuh datang membawa petaka
Siasat berperang sejak dahulu
Kebiasaan operasi para serdadu
Mereka datang sewaktu waktu
Tiada tanda pemberi tahu
Dalam hening sunyi senyap
Waktu malam sangat gelap
Ronda berjaga harus siap
Dilarang tidur walau sekejap
Kalau ronda terlelap tidur
Disertai nafas bunyi mendengkur
Alamat nasib tak kan mujur
Siapkan diri besok dikubur
Untuk sembunyi ke semak semak
Ketika musuh telah tampak
Tanpa perintah melalui teriak
Tontong dipukul dengan serentak
Terkadang sembunyi secara kelompok
Membawa persediaan kebutuhan pokok
Termasuk Lading ataupun Golok
Disebut orang pergi "ijok"
Ronda bergiliran diatur pak Wali
Sesudah bertugas tidak digaji
Bahan makanan bawa sendiri
Nasi disiapkan para isteri
Saat perang bukan frontal
Petugas ronda sangat vital
Penduduk nagari mereka kawal
Dibalas Tuhan sebagai amal
Akibat kalah bertempur
Sesudah PRRI kalah bertempur
Adat Minang menjadi mundur
Pangulu diam disuruh tidur
Dilarang bicara, jangan mengatur
Ibarat pasukan tentara APRI
Saat mengalahkan pejuang PRRI
Begitulah kota merusak nagari
Mamak kehilangan harga diri
Orang kota ada yang serakah
Kini datang membuat masalah
Bukit dan gunung semua dirambah
Pohon dihutan ditebang rebah

Kerusakan lingkungan telah terjadi
Air di sungai menyusut sekali
Masalah besar untuk nagari
Perlu dianalisa dengan diskusi
Bukti nyata berbentuk fakta
Lubuak Karambie sepohon Kelapa
Kini dangkal tinggal sehasta
Karena kerusakan di hulu rimba

Lubuk Tabiang di tepi jalan
Dahulu di situ bujang berlompatan
Terjun ke sungai bersama teman
Telah kering seperti daratan
Waktu hujan terlambat datang
Batang Bawan di nagari Sitalang
Sangat menyusut hampir kerontang
Akibat pohon banyak ditebang
Ketika cukong beserta konco
Merusak hutan dengan sembrono
Penduduk kampung menanggung resiko
Terjadi banjir disertai galodo
Konconya mungkin di Lubuk Basung
Anak parewa cerdik tanggung
Tidak malu, tiada canggung
Melupakan dunsanak orang sekampung
Dua ribu tujuh, galodo besar
Sawah tertimbun sepuluh hektar
Oleh kerikil dan batu besar
Kini tanah jadi terlantar
Waktu banjir 2007
Seperti manusia sedang mengeluh
Jawi yang hanyut melenguh lenguh
Ternak mati berpuluh puluh

Niniak Mamak sangat risau
Ketika hutan dibabat sinsau
Walau diprotes sampai parau
Dikalahkan amplop berisi ang pau
Sudah menjadi rahasia umum
Ang pau dibagi kepada oknum
Untuk menyogok penegak hukum
Aturan dilanggar dengan senyum
Ketika menjarah hutan ulayat
Orang kota mengatur siasat
Si Buyung diberi mainan yang nikmat
Sehingga lupa nasib kerabat
Mainan yang nikmat bermacam macam
Dari dangdut sampai Handycam
Termasuk pula kehidupan malam
Industri pariwisata ada di dalam
Setelah kayu hilang di bukit
Kehidupan nagari menjadi sulit
Masyarakat dibujuk sedikit sedikit
Turis kan datang membawa duit

Industri pariwisata mendirikan hotel
Sering maksiat ikut menempel
Ada peragaan para model
Mata terbelalak sampai pegel
Kodak kerusakan Lingkungan di Sitalang>
|