sejarah
Hari ini Sabtu tanggal 20 September: pada tahun 1980 Saddam Husein dengan bantuan Amerika Serikat menyerang Republik Islam Iran
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (68 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 6092
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 57095
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 244493
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 446197
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 368236
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 357006
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 445477
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 362003
  • PDRI , PRRI dan Sjafruddin Prawiranegara - 430294
  • PRRI di nagari Tanjuang Sungayang - 460132
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya
  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)
  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • PERLU
    KISAH PRIBADI
    Telah dibaca oleh: 446197 orang.

    17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI

    Dikarang oleh : H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati

    Kisah anak nagari Sitalang yang berjuang membela PRRI

    Dikarang oleh: H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati
    Diubah tg. 10 September 2013, di Jakarta.
    Diedit html oleh: H. si Am Dt. Soda


    H. Bustanuddin St. Kayo, 0813 1163 9317

    Pembukaan

    Melengkapi riwayat cerita PRRI
    Noor Indones Sutan Sati
    Beserta Abraham Ilyas, dokter gigi
    Meminta aku untuk bersaksi

    Berbentuk syair cerita ditulis
    Berisi kisah bermacam jenis
    Antara tawa dengan tangis
    Mungkin urutannya tidak sistematis

    Supaya jelas profile pengarang
    Aku asli orang Sitalang
    Ketika lahir di rantau orang
    Pulang ke kampung setelah bujang

    Ada pula saudaraku di Jambi
    Di kota Bangko bersama Umi
    Dia juga membela PRRI
    Begitulah keyakinan keluarga kami

    Kucoba ingat dalam renungan
    Lama hidup banyak dirasakan
    Jauh berjalan beragam penglihatan
    Semua kejadiaan seizin Tuhan

    Dalam kehidupan sehari hari
    Agar tak kufur nikmat Ilahi
    Gembira dibuat pelipur hati
    Saat musibah ingatlah Diri

    Keadaan susah kalau kuingat
    Iba hati teramat sangat
    Terasa diri takkan selamat
    Di antara peluru dan pecahan granat

    Jika teringat masa sulit
    Berlindung di gua, bertahan di parit
    Hati dan jantung terasa sempit
    Pikiran melayang sampai ke langit

    Aku tersentak dari lamunan
    Senang dan susah itu cobaan
    Semua manusia pasti merasakan
    Mungkin caranya yang berlainan

    Nabi Muhammad telah bersabda
    Untuk makhluk umat manusia
    Menyembah Allah wajib hukumnya
    Berbuat baik kepada sesama

    Di dalam kitab Allah berfirman
    Senang dan susah akan ditimpakan
    Untuk manusia penguji iman
    Begitu ayat di dalam Qur'an

    Segera kuambil buku catatan
    Naskah lama masih disimpan
    Penuh berisi dengan tulisan
    Tentang kegembiraan atau kesusahan

    Catatan diambil lalu dibaca
    Berisi tulisan yang lama lama
    Ketika diri disebut pemuda
    Mengembara di rimba lalu dipenjara

    Kini umur tujuh puluh tiga
    Hidup terasa cukup bahagia
    Karena Allah Tuhan yang Kuasa
    Melimpahkan nikmat tiada terkira

    Tentang biaya hidup sehari hari
    Dari anakku bijak bestari
    Dua putera dan dua puteri
    Setiap saat siap memberi

    Aku pindah ke ruang kerja
    Duduk di kursi menghadap meja
    Dicoba menulis apa yang ada
    Sebelum ajal menjemput usia

    Menetapkan pilihan

    Lima puluh enam tahun yang lalu
    Aku belajar menuntut ilmu
    Di SGB sekolah guru
    Engku Burhanuddin nama guruku

    SGB III di kota Padang
    Letak gedungnya di Simpang Kandang
    Daerahnya ramai alang kepalang
    Diri belajar sangatlah senang

    Tempat tinggal di kampung Palinggam
    Semua tetangga beragama Islam
    Suraunya bernama langgar al Ihram
    Sering pengajian malam malam

    Tinggal menumpang di rumah saudara
    Dunsanak sepupu orang bijaksana
    Kantornya terletak di pelabuhan Muara
    Dia pegawai Kas Negara

    Saudara sepupu Achmad Zaini
    Isterinya bernama Siti Nurani
    Keluarga sakinah hidup islami
    Gajinya cukup sangat memadai

    Adik sepupu sangat dimanja
    Menumpang di rumah tanpa menyewa
    Tugas yang pokok belajar saja
    Hari Ahad kadang berwisata

    Suatu saat ke Simpang Aru
    Ada mamak, adiknya ibu
    Syair St. Makruf tinggal di situ
    Lemarinya penuh berisi buku

    Mak Syair aktifis Masyumi
    Bicara politik sepanjang hari
    Walau ekonomi kurang memadai
    Bukan halangan ketika berbakti

    Pernah terjadi suatu ketika
    Mamak mengajak ikut serta
    Melayani tamu pemimpin bangsa
    Muhammad Natsir dari Jakarta

    Aku diberi selembar kartu
    Sebagai bukti penerima tamu
    Disuruh berdiri di samping pintu
    Menjawab pertanyaan kalau perlu

    Lalu diadakan rapat terbatas
    Masuk ruangan tidaklah bebas
    Natsir berpidato secara jelas
    Semua hadirin sangat antusias

    19 56 waktunya lupa
    Natsir bicara apa adanya
    Ummat Islam menghadapi bahaya
    Inilah cobaan Allah ta'ala

    Akan diindang, ditampi teras
    Biar terpisah padi dan beras
    Kaum muslimin haruslah tegas
    Orang Komunis sedang mengganas

    Dengan serius Natsir berqalam
    Ibarat Ikan di dalam kolam
    Dilempar batu jatuh ke dalam
    Ummat Islam sedang terancam

    Akan terjadi suatu drama
    Ummat Islam harus waspada
    Maju kena, mundurpun kena
    Kepada Allah kita berdoa

    Tiada perlu berpikir lama
    Ummat Islam siaplah segera
    Membela negeri, tanah tercinta
    Diancam Komunis anti agama

    Ada ditulis di koran koran
    D.N. Aidit pernah mengatakan
    Orang P.K.I anti Tuhan
    Hatiku geram tiada tertahan

    Membaca syair mungkin bosan
    Tapi cerita perlu diteruskan
    Eseipun ditulis dalam karangan
    Silakan dibaca untuk dipikirkan

    1. Pemilu 1955 menghasilkan 4 partai yang mendapat suara terbanyak: yaitu PNI, Masjumi, NU dan PKI.
    Masyumi menang di luar Jawa sedangkan PNI, NU dan PKI mendapat suara terbanyak di pulau Jawa.

    2. Presiden Soekarno memilih PNI untuk memimpin kabinet/pemerintah dengan mengikutsertakan/merangkul PKI.
    Hal semacam ini ditentang oleh Masyumi karena kaum Komunis anti Tuhan dan menghalalkan kudeta untuk meraih kekuasaan, ..... dengan kata lain PKI anti demokrasi.
    Ketika itu Masyumi tidak menuntut agar PKI dibubarkan, bahkan di kemudian hari hal yang sebaliknya terjadi; yaitu Masjumi dan PSI dibubarkan. Kelak di tahun 1966 PKI dibubarkan oleh Jenderal Suharto sedangkan pada saat yang bersamaan presiden Soekarno tidak mau membubarkan PKI walaupun jelas jelas terlibat pemberontakan PKI/G30S.

    Sebagai pemuda usia belasan
    Di dalam hati aku tekadkan
    Membela Islam jadi pilihan
    Biarpun nyawa jadi taruhan

    Walau hidup masih membujang
    Tamat SGB di kota Padang
    Hatiku gembira tidak kepalang
    Menjadi guru sangatlah senang

    Mendapat tugas mengajar di kota
    Di Payakumbuh sebelah Utara
    Sekolah Rakyat istilah lama
    Mendidik murid di kelas lima

    Radilas Fanani kepala sekolah
    Mulutnya manis kucindan murah
    Kalau bicara selalu ramah
    Apa katanya tak pernah kubantah

    Sembilan orang teman seprofesi
    Empat pemuda, lima pemudi
    Kami mengajar setiap hari
    Mendidik siswa sepenuh hati

    Nikmat Allah sangat terasa
    Setiap hari berhati suka
    Sambil mengajar, belajar pula
    Mengikuti kursus di K.G.A

    Keadaan yang berubah

    Situasi politik berkembang cepat
    Orang Minang telah bersepakat
    Rezim Soekarno sedang berkhianat
    Jauh di hati harapan rakyat

    Achmad Husein muncul ke depan
    Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
    Lima hari lima malam waktu diberikan
    Pemerintah mundur dari kekuasaan

    Dua tuntutan dicatat sejarah
    Perlu ditandai tinta merah
    Berikan otonomi kepada daerah
    Orang Komunis jangan memerintah

    Presiden Soekarno bernafas sesak
    Para panglima sedang menggertak
    Daerah dianggap sebagai pemberontak
    Kaum Komunis lalu bersorak

    Soekarno marah bertambah berang
    Tentara dikirim untuk berperang
    Sumatera Tengah akan diserang
    Target utama ke ranah Minang

    Dari laut dan dari udara
    Kota Padang sasaran pertama
    Dijatuhkan bom membabi buta
    Banyak korban mati dan luka

    Karena kota kini tak aman
    Badan diri wajib diselamatkan
    Gaji terhenti tak bisa makan
    Lalu berunding sesama teman

    Menyusul kota diduduki APRI
    Tiada perintah, tanpa koordinasi
    Ke kampung kampung rakyat mengungsi
    Berbondong bondong berjalan kaki

    Ke Sitalang pergi mengungsi
    Didalam kecamatan Ampek Nagari
    Disitu bermukim sanak famili
    Mereka bekerja sebagai petani

    Nagari Sitalang Barajo Sorang
    Di kaki gunung beriklim sedang
    Penduduk ramah sangat periang
    Kepada dunsanak sangat sayang

    Semua orang taat beribadah
    Untuk kebaikan mau mengalah
    Perbuatan mudarat langsung dicegah
    Ketika berusaha pantang menyerah

    Ke Pasaman mendaftar jadi sukarelawan PRRI

    Pada akhir tahun 58
    Enam bulan waktu berjalan
    Aku berada di kampung halaman
    Kini datang suatu kesempatan

    Kesempatan baik untuk berbakti
    Menjadi sukarelawan pejuang PRRI
    Pergi berperang menyelamatkan negeri
    Dari serangan tentara APRI

    Di Ujung Gading dekat lautan
    Di sana bermarkas induk pasukan
    Kompi KKO diberi sebutan
    Letnan Isrul sebagai komandan

    17 pemuda berbadan sehat
    Percaya diri penuh semangat
    Lalu berkumpul mengadakan rapat
    Ingin berperang melawan Pusat

    Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
    Setelah berkumpul sambil berunding
    Siap berangkat ke nagari Silaping
    Dekat pantai di Ujung Gading

    Para remaja anak bujang
    Dari Batu Kambing dan Sitalang
    Ke rantau Pasaman pergi berperang
    Namanya ditulis untuk dikenang

    Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin, Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin, Paramai, Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih - 1 nama !

    Pagi hari sebelum berangkat
    Calon pejuang diberi nasehat
    Dilanjutkan doa kaum kerabat
    Kembali pulang dengan selamat

    Selesai bermohon kepada Tuhan
    Para remaja mulai berjalan
    Masuk hutan ke luar hutan
    Hanya berhenti ketika makan

    Walau kaki beralas sandal
    Baju di badan banyak bertambal
    Niat berjuang sejak awal
    Bukan ambisi ingin terkenal

    Berjalan kaki beriring iring
    Ada yang gemuk banyak yang langsing
    Melewati jalan di tepi tebing
    Bila tergelincir jatuh terguling

    Saat melewati banyak nagari
    Sumadang, Gudang, Tapian Kandi
    Padang Gantiang, Padang Sawah dan Kinali
    Terasa berada di kampung sendiri

    Ninik Mamak datang menyambut
    Diikuti orang tua berusia lanjut
    Berjabat tangan berebut rebut
    Meskipun malam telah larut

    Ketika sampai di batang Masang
    Sungai besar airnya tenang
    Rombongan berhenti karena terhalang
    Tiada titian untuk menyeberang

    Penduduk bertanya kepada yang tua
    Ke mana tujuan para pemuda
    Kami menjawab apa adanya
    Hendak ke Pasaman membela negara

    Karena rombongan pemuda PRRI
    Semua orang ikut bersimpati
    Rakit dipinjamkan oleh pak Haji
    Makanan disumbang Amai dan Umi

    Kota Kinali diserang

    Di Pasaman kami ditempatkan
    Nagari Silapiang tempat latihan
    KKO-AL PRRI nama kesatuan
    Letnan Isrul sebagai komandan

    Waktu malam ataupun siang
    3 bulan berlatih perang
    Termasuk merawat bermacam senapang
    Mahir membongkar ataupun memasang

    Bulan Desember tahun 59
    Selesai sudah seluruh latihan
    Datang perintah dari komandan
    Supaya siap dalam pertempuran

    Apel gabungan di sore hari
    Komandan menyampaikan sebuah instruksi
    Agar bersiap ikut operasi
    Lalu dijatah sebungkus nasi

    Besok subuh dingin berkabut
    Ada pos APRI akan direbut
    3 kompi lalu direkrut
    Tiada kami merasa takut

    Azwar Tontong komandan operasi
    Pangkatnya mayor, didikan luar negeri
    Tubuhnya kuat, besar dan tinggi
    Dahulu anggota batalion Kuranji

    Isrul Ismail, wakil komandan
    KKO AL berpangkat letnan
    Kalau menembak sangat cekatan
    Pistolnya dua, kiri dan kanan

    Rombongan kedua kompi Kala Hitam
    Komandan bernama letnan Agam
    Senjatanya lengkap bermacam macam
    termasuk Mortir sejenis meriam

    Kompi ketiga sifatnya gabungan
    TP dan PDD jadi andalan
    Pemuda pelajar para sukarelawan
    Tidak diupah gaji bulanan

    Ketika malam tiada lampu
    Kami berjalan satu persatu
    Semua prajurit tak boleh ragu
    Tugas komandan menjadi penentu

    Saat berjalan dimalam gelap
    Sepicing mata tak boleh lelap
    Kadang berlari, kadang merayap
    Penjagaan musuh akan disergap

    Pukul 3 ketika itu
    Kepada prajurit diberi tahu
    Melalui bisikan satu persatu
    Kota Kinali akan diserbu

    Perintah lain yang keluar
    Semua peluru harus di kamar
    Granat disiapkan untuk dilempar
    Tentara Pusat harus dikejar

    1 Januari tahun 60
    Pagi hari pukul tujuh
    Kota Kinali menjadi rusuh
    Bertambah siang semakin gaduh

    Sambil sembunyi di dalam semak
    Tembakan dilepas secara serentak
    Setiap prajurit harus berteriak
    Maju ke depan sambil bersorak

    Apri kaget bukan main
    Komandan mereka sangat yakin
    Menyerang Kinali tidak mungkin
    Tentara PRRI tidak berdisiplin

    Kini kota telah dikuasai
    Musuh yang kalah melarikan diri
    Ada yang menyuruk di tempat sembunyi
    Sedangkan yang luka dibawa pergi

    Banyak perlengkapan berhasil direbut
    Termasuk verban untuk pembalut
    Ditambah seragam serta selimut
    Dimasukkan sumpik lalu diangkut

    Kain verban pembalut luka
    ditambah Penicillin antibiotika
    Termasuk rampasan sangat berharga
    Di dalam hutan sangat langka

    Pos penjagaan PRRI di nagari Lansek Kodok

    Selama 3 jam kami bertahan
    Lalu datang perintah Komandan
    Harus kembali masuk hutan
    Untuk apel di induk pasukan

    Kami mundur ke arah Panti
    Di Lansek Kodok pasukan berhenti
    Sesuai senjata yang dimiliki
    Peluru rampasan di bagi bagi

    Ada perintah dari komandan
    Kalau senjata yang jadi rampasan
    Harus segera wajib diserahkan
    Tiada boleh sendiri menyimpan

    6 bulan bermarkas di Lansek Kodok
    Nagari terpencil agak pelosok
    Penduduknya damai, jarang yang cekcok
    Gadisnya cantik berparas elok

    Sifat aslinya meninjau jarah
    Mulut manis, kucindan murah
    Kepada tamu sangat ramah
    Senang membantu orang yang susah

    Penulis sendiri sangat terharu
    Melihat masyarakat bersatu padu
    Membantu perjuangan ketika itu
    Terasa bermukim di rumah ibu

    Supaya keamanan tetap terjaga
    Pasukan kami dibagi dua
    Ada yang berpos dekat jalan raya
    Mendapat bantuan orang ronda

    Tahun 60, di bulan Juli
    Tanggalnya lupa tak ingat lagi
    Pasukan KKO-AL pindah domisili
    Ke desa kecil di daerah Suliki

    Sebagai remaja yang masih bujang
    Tinggal di sini hatiku senang
    Selama hidup kan ku kenang
    Meskipun jauh di negeri orang

    Di daerah Suliki Koto Bangun
    Nagari beradat, bersopan santun
    Terkadang aku diam tertegun
    Kepada Allah meminta ampun

    Meminta ampun kepada Allah
    Mungkin diriku banyak salah
    Pemuda bujang, kadang bertingkah
    Cepat emosi, naik darah

    Mengawal pejabat PRRI menuju perbatasan

    Di Koto Bangun hanya sebulan
    Datang perintah dari komandan
    Berangkat menuju Tapanuli Selatan
    Mengawal pejabat dalam perjalanan

    Bulan Agustus kami berangkat
    Melakukan tugas yang sangat berat
    Mengawal pemimpin para pejabat
    Di dalam rimba hutan yang lebat

    Laksana orang sedang antrian
    Kami berjalan secara urutan
    Di jalan setapak dalam hutan
    Perbatasan Sumbar dan Riau daratan

    Pernah singgah di suatu gua
    Sangat luas tiada terkira
    Tempat hunian bermacam satwa
    Kekayaan alam tiada taranya

    Guanya besar alang kepalang
    Bisa menampung seribu orang
    Di dalamnya terlihat sangat terang
    Dari udara tak tembus pandang

    Setelah berjamaah melakukan sholat
    Makan dan minum terasa nikmat
    Lokasi yang nyaman untuk istirahat
    Rasanya malas untuk berangkat

    Sepuluh hari dalam perjalanan
    Sampailah kami di Teluk Kuantan
    Sambil menunggu sangu perbekalan
    Pasukan berhenti di pinggir hutan

    Rombongan disambut oleh pak Camat
    Beliau memberi ucapan selamat
    Sambil meminta dengan hormat
    Janganlah diserang tentara Pusat

    Dia berkata terang terangan
    Siap memberi segala bantuan
    Termasuk beras dan sandang pangan
    Tapi hindari ada pertempuran

    Untuk memilih langkah yang tepat
    Para komandan segera rapat
    Apakah menerima usul pak Camat
    Atau menyerang tentara Pusat

    Dalam waktu yang tidak lama
    Komandan pasukan angkat bicara
    Usul pak Camat harus diterima
    Para anggota banyak yang kecewa

    Mendengar keputusan dari komandan
    Emosiku muncul tidak tertahan
    Pikiran berontak dipengaruhi Setan
    Aku melepas satu tembakan

    Letnan Isrul sangat marah
    Menyebut aku sebagai bedebah
    Memegang senjata tidak amanah
    Melakukan perbuatan yang sangat salah

    Meskipun aku dicaci maki
    Untunglah cepat sadar diri
    Tidak langsung berkecil hati
    Karena perbuatanku beresiko tinggi

    Hukuman disiplin aku terima
    Sepuluh hari dilucuti senjata
    Ibarat bercerai menjadi duda
    Tiada lagi isteri tercinta

    Saat di Riau kami berada
    Ada terjadi suatu peristiwa
    Komandan mati dalam sengketa
    Sangat sedih untuk diterima

    Pertempuran di Naga Seribu Pd. Bolak

    Masuk daerah Tapanuli Selatan
    Di Pinarik kami ditempatkan
    Lalu digabung dengan lain kesatuan
    Pusuk Buhit orang namakan

    Karena ada target utama
    Saya dipindahkan ke Aek Nabara
    Satu pleton termasuk saya
    Bergabung kesatuan yang sudah di sana

    Naga Seribu sasaran yang nyata
    Ada pos Apri sedikit penjaga
    Komandan membuat sebuah rencana
    Kami diperintah merebut senjata

    Di dekat tepian Sungai Barumun
    Reguku diserang tanpa ampun
    Tembakan terjadi secara beruntun
    Senjata berat, termasuk brengun

    Tujuh jam terjadi pertempuran
    Kami seregu hancur berantakan
    Hanya saya yang hidup sendirian
    Tangan diikat sebagai tawanan

    5 orang kawan, dalam seregu
    Ketika ditembak satu persatu
    Hatiku sedih terasa pilu
    Ingat penderitaan para Ibu

    Sangat sedih untuk dikenang
    Kawan seregu masih terbayang
    Diantaranya Agus orang Padang
    Mati diujung pistol senapang

    Kendi orang Lansek Kodok
    Wafer Saragih suku Karo
    Dua orang lupa namanya

    14 Oktober, tahun 60
    Setelah bertempur sedari subuh
    Pakaian di badan sudah lusuh
    Saya bersyukur tidak dibunuh

    Dengan diikat pergelangan tangan
    Sambil berdoa ke hadapan Tuhan
    Aku dibawa ke kota Medan
    Sebagai musuh sedang ditawan

    Di sana diperiksa Kodam Bukit Barisan
    Juga Kepolisian tidak ketinggalan
    Termasuk pula pihak Kejaksaan
    Akhir divonis ke penjara Pulau Brayan

    Setelah Soekarno memilih damai
    Kondisi aneh bisa dicapai
    Keluar penjara berlangsung santai
    Disambut keluarga beramai ramai

    Kota Palembang yang dituju
    Di situ ada kakak dan Ibu
    Aku melanjutkan profesi guru
    Sambil kuliah menambah ilmu

    Di Muhammadiyah aku mengabdi
    Tahun 66 demonstrasi terjadi
    Membentuk gerakan kesatuan aksi
    Aku memimpin laskar KAPPI

    Hasan dan Husen saudara kembar gugur menepati janji

    Untuk dicontoh para remaja
    Menjadi teladan sampai tua
    Hasan dan Husen tak berebut harta
    Ketika berperang sesama saudara

    Saudara kembar Husen dan Hasan
    Bermuka mirip susah dibedakan
    Hobinya sama, senang berteman
    Ketika bergolak saling berlawan

    Bukan karena dapat indoktrinasi
    Tapi keyakinan hak azasi
    Husen menjadi pejuang PRRI
    Hasan bertugas di kesatuan APRI

    Hasan dan Husen saling berhadapan
    Ketika berperang dalam pertempuran
    Keduanya tewas rela berkorban
    Demi menjaga suatu kehormatan

    Husen tewas mati terbunuh
    Dalam pertempuran di nagari Situjuh
    APRI yang datang dari Payakumbuh
    Membawa prajurit berpuluh puluh

    Dia sahid membela keyakinan
    Bergabung PRRI dalam perjuangan
    Menerima takdir ketetapan Tuhan
    Jannatun naim sebagai balasan

    Lain lagi tewasnya Hasan
    Sebagai prajurit jadi teladan
    Selalu patuh peintah atasan
    Semua tugas dia laksanakan

    Saat Hasan sedang bertugas
    Untuk patroli di ujung batas
    Pejuang mengintai di bukit atas
    Hasan tertembak langsung tewas

    Semua prajurit punya tradisi
    Mengucapkan sumpah serta janji
    Hasan contoh prajurit sejati
    Melaksanakan sumpah menepati janji

    Begini janji saat disumpah
    Prajurit patuh pada perintah
    Ketika bertempur haram menyerah
    Instruksi komandan pantang dibantah

    Dalam korps pasukan APRI
    Hasan ternyata prajurit sejati
    Menepati sumpah ketika berjanji
    Hasan terbunuh saat beroperasi

    Walau tiada ditampilkan foto
    Inilah sedikit sebagai info
    Hasan dan Husen bersuku Koto
    Anak kemenakan Dt. Tan Bandaro

    Bapaknya bernama Kari Sili
    Seperti umumnya penduduk Nagari
    Kerja di kampuang jadi petani
    Sambil memelihara ternak Sapi

    Mat Asan pahlawan tak dikenal dari nagari Sitalang

    Mat Asan bujang pilihan
    Tinggal di Sitalang tiada bosan
    Terlalu banyak meninggalkan kesan
    Bagi anak cucu jadikan teladan

    Asan rajin dan sangat pintar
    Guru heran ketika mengajar
    Semua pertanyaan dijawab lancar
    Dengan kawan senang kelakar

    Bila guru menghitung salah
    Asan langsung siap menyanggah
    Kalau timbul ricuh dan telagah
    Sering gurunya yang mengalah

    Sifat sosialnya Allohu Robbi
    Sanggup menolong petang dan pagi
    Tak pernah dia meminta gaji
    Terkadang orang ikhlas memberi

    Keluarga Mat Asan orang tak mampu
    Sawah tak punya, rumahpun bambu
    Lima beradik bahu membahu
    Menegakkan kaum bersatu padu

    Jaman berperang melawan NICA
    Tenaganya dipakai oleh tentara
    Menjadi penyelidik atau mata-mata
    Mengantar nasi dikerjakan pula

    Perang selesai Mat Asan terlupakan
    Tidak dihargai sebagai veteran
    Lalu berjualan, pekan ke pekan
    Menyambung hidup mencari makan

    Ada istimewa pada Mat Asan
    Bisa terlelap sambil berjalan
    Meski di kepala ada beban
    Tidur pulas sampai di tujuan

    Saat pergi ke Lubuk Basung
    Asan terbangun lalu ke warung
    Tiada lagi beban yang dijunjung
    Minum segelas, makan secambung

    Pristiwa terulang di masa PRRI
    Mat Asan kembali ikut mengabdi
    Tugas utama mengantar nasi
    Untuk pemimpin yang sedang mengungsi

    Muhammad Natsir bersama rombongan
    Pagi dan petang diantarkan makan
    Biarpun gerimis ataupun hujan
    Nasi tak mungkin ditahan tahan

    Ada pada suatu ketika
    OPR mengadu kepada tentara
    Tentang Asan punya kerja
    Dia ditangkap untuk diperiksa

    Asan dibawa ke dalam hutan
    Mata ditutup dengan sapu tangan
    Jari diikat ke belakang badan
    Lalu dipukuli sepanjang jalan

    Penduduk Sitalang hati terluka
    Dengan Mat Asan di akhir usia
    Nyawa melayang di ujung senjata
    Jasadnya hilang tak tahu rimba

    Kepada orang Sitalang kami berpesan
    Buatkan kuburan di pinggir jalan
    Nyatakan dia seorang pahlawan
    Hidupnya berjasa penuh kenangan

    Walaupun di kampung dia mengabdi
    Ikut berjuang membela pertiwi
    Tidak berharap upah komisi
    Itulah Mat Hasan pahlawan sejati

    Karena penulis habis inspirasi
    Kisah tak lagi berbentuk puisi
    Cerita diteruskan dalam narasi
    Kalimatnya disusun teratur rapi

    Dukun Paranormal ikut mendukung perjuangan

    Datuk Sati Durahman orang Sitalang
    Mendukung PRRI tidak kepalang
    Meski bukan tentara bersenapang
    Semangat Datuk perlu dikenang

    Tidak dipaksa, tidak disuruh
    Membantu perjuangan secara penuh
    Dilakukan masyarakat bersungguh sungguh
    Ketika Sitalang menghadapi musuh

    Anak nagari sangat percaya
    Datuk Sati pendekar ternama
    Sangat disegani banyak ilmunya
    Memberi keyakinan kepada warga

    Mamak dan Amai serta remaja
    Orang Siak ataupun parewa
    Ke batas nagari pergi bersama
    Mengiringi Datuk sambil berdoa

    Di batas nagari secara makrifat
    Pagar Gaib lalu dibuat
    Pedang diacungkan disertai niat
    Tentara Soekarno tak bisa mendekat

    Dalam suasana agak mistis
    Saat turun hujan gerimis
    Orang terharu ada yang menangis
    Pedang diacungkan, tanah digaris

    Ibarat tembok dinding tinggi
    Peristiwa aneh penuh misteri
    Kelak kemudian benar terbukti
    Pagar gaib tak pernah dilewati

    Tentara Soekarno ketika datang
    Melalui Tantaman jalan yang lengang
    Lalu turun ke nagari Sitalang
    Kampuang dimasuki dari belakang

    Bantuan Masyarakat

    Saat terjadi pertempuran hebat
    Di nagari Kamang sebelah barat
    Kapten Bachtiar terluka berat
    Kakinya tertembak peluru granat

    Bachtiar ditandu berjalan kaki
    Di jalan setapak rimba yang sunyi
    Melewati batas banyak nagari
    Menuju Sitalang untuk diobati

    Karena kakinya terluka parah
    Kondisi Bachtiar sangat lemah
    Dia dipinjami sebuah rumah
    Milik Usman Datuk Batuah

    Bachtiar diungsikan ke Sitalang
    Melewati rimba hutan terlarang
    Dari Tantaman terus ke Gumarang
    Rutenya berat tidak kepalang

    Jalan setapak di dalam rimba
    Dipakai orang sejak lama
    Kini digunakan sipil dan tentara
    Ketika mengungsikan korban yang luka

    Waktu menempuh rimba hutan
    Orang tua penunjuk jalan
    Anak muda pembawa beban
    Prajurit mengawal ada di depan

    Rumah datuk sangat besar
    Berlantai kayu beralas tikar
    Di tepi jalan tanpa pagar
    Kini dipinjamkan kepada Bachtiar

    Meski Bachtiar orang jauh
    Sedang dicari diintai musuh
    Orang Sitalang ikhlas sungguh
    Bachtiar diobati sampai sembuh

    Enam bulan Bachtiar dirawat
    Diberi jamu disertai obat
    Sampai tubuhnya menjadi kuat
    Melanjutkan perang melawan Pusat

    Orang Ronda memiliki andil menjaga nagari

    Karena takut dijadikan sandera
    Penduduk kampung sembunyi di rimba
    Mungkin sehari atau dua
    Menunggu musuh pulang ke kota

    Tugas utama orang ronda
    Memukul Tontong tanda bahaya
    Memberi tahu sanak saudara
    Musuh datang membawa petaka

    Siasat berperang sejak dahulu
    Kebiasaan operasi para serdadu
    Mereka datang sewaktu waktu
    Tiada tanda pemberi tahu

    Dalam hening sunyi senyap
    Waktu malam sangat gelap
    Ronda berjaga harus siap
    Dilarang tidur walau sekejap

    Kalau ronda terlelap tidur
    Disertai nafas bunyi mendengkur
    Alamat nasib tak kan mujur
    Siapkan diri besok dikubur

    Untuk sembunyi ke semak semak
    Ketika musuh telah tampak
    Tanpa perintah melalui teriak
    Tontong dipukul dengan serentak

    Terkadang sembunyi secara kelompok
    Membawa persediaan kebutuhan pokok
    Termasuk Lading ataupun Golok
    Disebut orang pergi "ijok"

    Ronda bergiliran diatur pak Wali
    Sesudah bertugas tidak digaji
    Bahan makanan bawa sendiri
    Nasi disiapkan para isteri

    Saat perang bukan frontal
    Petugas ronda sangat vital
    Penduduk nagari mereka kawal
    Dibalas Tuhan sebagai amal

    Akibat kalah bertempur

    Sesudah PRRI kalah bertempur
    Adat Minang menjadi mundur
    Pangulu diam disuruh tidur
    Dilarang bicara, jangan mengatur

    Ibarat pasukan tentara APRI
    Saat mengalahkan pejuang PRRI
    Begitulah kota merusak nagari
    Mamak kehilangan harga diri

    Orang kota ada yang serakah
    Kini datang membuat masalah
    Bukit dan gunung semua dirambah
    Pohon dihutan ditebang rebah


    Kerusakan lingkungan telah terjadi
    Air di sungai menyusut sekali
    Masalah besar untuk nagari
    Perlu dianalisa dengan diskusi

    Bukti nyata berbentuk fakta
    Lubuak Karambie sepohon Kelapa
    Kini dangkal tinggal sehasta
    Karena kerusakan di hulu rimba


    Lubuk Tabiang di tepi jalan
    Dahulu di situ bujang berlompatan
    Terjun ke sungai bersama teman
    Telah kering seperti daratan

    Waktu hujan terlambat datang
    Batang Bawan di nagari Sitalang
    Sangat menyusut hampir kerontang
    Akibat pohon banyak ditebang

    Ketika cukong beserta konco
    Merusak hutan dengan sembrono
    Penduduk kampung menanggung resiko
    Terjadi banjir disertai galodo

    Konconya mungkin di Lubuk Basung
    Anak parewa cerdik tanggung
    Tidak malu, tiada canggung
    Melupakan dunsanak orang sekampung

    Dua ribu tujuh, galodo besar
    Sawah tertimbun sepuluh hektar
    Oleh kerikil dan batu besar
    Kini tanah jadi terlantar

    Waktu banjir 2007
    Seperti manusia sedang mengeluh
    Jawi yang hanyut melenguh lenguh
    Ternak mati berpuluh puluh


    Niniak Mamak sangat risau
    Ketika hutan dibabat sinsau
    Walau diprotes sampai parau
    Dikalahkan amplop berisi ang pau

    Sudah menjadi rahasia umum
    Ang pau dibagi kepada oknum
    Untuk menyogok penegak hukum
    Aturan dilanggar dengan senyum

    Ketika menjarah hutan ulayat
    Orang kota mengatur siasat
    Si Buyung diberi mainan yang nikmat
    Sehingga lupa nasib kerabat

    Mainan yang nikmat bermacam macam
    Dari dangdut sampai Handycam
    Termasuk pula kehidupan malam
    Industri pariwisata ada di dalam

    Setelah kayu hilang di bukit
    Kehidupan nagari menjadi sulit
    Masyarakat dibujuk sedikit sedikit
    Turis kan datang membawa duit


    Industri pariwisata mendirikan hotel
    Sering maksiat ikut menempel
    Ada peragaan para model
    Mata terbelalak sampai pegel

    Kodak kerusakan Lingkungan di Sitalang


    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH || WISRAN HADI
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px