sejarah
Hari ini Jumat tanggal 25 April: pada tahun 1826 mobil yang pertama dibuat di London
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (68 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 45153
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 231772
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 434047
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 356646
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 345294
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 433466
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 349447
  • PDRI , PRRI dan Sjafruddin Prawiranegara - 418454
  • PRRI di nagari Tanjuang Sungayang - 448035
  • Nagari Andoleh Br. Bukik terbakar ketika PRRI - 381994
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya
  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)
  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • PERLU
    KISAH PRIBADI
    Telah dibaca oleh: 434047 orang.

    17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI

    Dikarang oleh : H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati

    Kisah anak nagari Sitalang yang berjuang membela PRRI

    Dikarang oleh: H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati
    Diubah tg. 10 September 2013, di Jakarta.
    Diedit html oleh: H. si Am Dt. Soda


    H. Bustanuddin St. Kayo, 0813 1163 9317

    Pembukaan

    Melengkapi riwayat cerita PRRI
    Noor Indones Sutan Sati
    Beserta Abraham Ilyas, dokter gigi
    Meminta aku untuk bersaksi

    Berbentuk syair cerita ditulis
    Berisi kisah bermacam jenis
    Antara tawa dengan tangis
    Mungkin urutannya tidak sistematis

    Supaya jelas profile pengarang
    Aku asli orang Sitalang
    Ketika lahir di rantau orang
    Pulang ke kampung setelah bujang

    Ada pula saudaraku di Jambi
    Di kota Bangko bersama Umi
    Dia juga membela PRRI
    Begitulah keyakinan keluarga kami

    Kucoba ingat dalam renungan
    Lama hidup banyak dirasakan
    Jauh berjalan beragam penglihatan
    Semua kejadiaan seizin Tuhan

    Dalam kehidupan sehari hari
    Agar tak kufur nikmat Ilahi
    Gembira dibuat pelipur hati
    Saat musibah ingatlah Diri

    Keadaan susah kalau kuingat
    Iba hati teramat sangat
    Terasa diri takkan selamat
    Di antara peluru dan pecahan granat

    Jika teringat masa sulit
    Berlindung di gua, bertahan di parit
    Hati dan jantung terasa sempit
    Pikiran melayang sampai ke langit

    Aku tersentak dari lamunan
    Senang dan susah itu cobaan
    Semua manusia pasti merasakan
    Mungkin caranya yang berlainan

    Nabi Muhammad telah bersabda
    Untuk makhluk umat manusia
    Menyembah Allah wajib hukumnya
    Berbuat baik kepada sesama

    Di dalam kitab Allah berfirman
    Senang dan susah akan ditimpakan
    Untuk manusia penguji iman
    Begitu ayat di dalam Qur'an

    Segera kuambil buku catatan
    Naskah lama masih disimpan
    Penuh berisi dengan tulisan
    Tentang kegembiraan atau kesusahan

    Catatan diambil lalu dibaca
    Berisi tulisan yang lama lama
    Ketika diri disebut pemuda
    Mengembara di rimba lalu dipenjara

    Kini umur tujuh puluh tiga
    Hidup terasa cukup bahagia
    Karena Allah Tuhan yang Kuasa
    Melimpahkan nikmat tiada terkira

    Tentang biaya hidup sehari hari
    Dari anakku bijak bestari
    Dua putera dan dua puteri
    Setiap saat siap memberi

    Aku pindah ke ruang kerja
    Duduk di kursi menghadap meja
    Dicoba menulis apa yang ada
    Sebelum ajal menjemput usia

    Menetapkan pilihan

    Lima puluh enam tahun yang lalu
    Aku belajar menuntut ilmu
    Di SGB sekolah guru
    Engku Burhanuddin nama guruku

    SGB III di kota Padang
    Letak gedungnya di Simpang Kandang
    Daerahnya ramai alang kepalang
    Diri belajar sangatlah senang

    Tempat tinggal di kampung Palinggam
    Semua tetangga beragama Islam
    Suraunya bernama langgar al Ihram
    Sering pengajian malam malam

    Tinggal menumpang di rumah saudara
    Dunsanak sepupu orang bijaksana
    Kantornya terletak di pelabuhan Muara
    Dia pegawai Kas Negara

    Saudara sepupu Achmad Zaini
    Isterinya bernama Siti Nurani
    Keluarga sakinah hidup islami
    Gajinya cukup sangat memadai

    Adik sepupu sangat dimanja
    Menumpang di rumah tanpa menyewa
    Tugas yang pokok belajar saja
    Hari Ahad kadang berwisata

    Suatu saat ke Simpang Aru
    Ada mamak, adiknya ibu
    Syair St. Makruf tinggal di situ
    Lemarinya penuh berisi buku

    Mak Syair aktifis Masyumi
    Bicara politik sepanjang hari
    Walau ekonomi kurang memadai
    Bukan halangan ketika berbakti

    Pernah terjadi suatu ketika
    Mamak mengajak ikut serta
    Melayani tamu pemimpin bangsa
    Muhammad Natsir dari Jakarta

    Aku diberi selembar kartu
    Sebagai bukti penerima tamu
    Disuruh berdiri di samping pintu
    Menjawab pertanyaan kalau perlu

    Lalu diadakan rapat terbatas
    Masuk ruangan tidaklah bebas
    Natsir berpidato secara jelas
    Semua hadirin sangat antusias

    19 56 waktunya lupa
    Natsir bicara apa adanya
    Ummat Islam menghadapi bahaya
    Inilah cobaan Allah ta'ala

    Akan diindang, ditampi teras
    Biar terpisah padi dan beras
    Kaum muslimin haruslah tegas
    Orang Komunis sedang mengganas

    Dengan serius Natsir berqalam
    Ibarat Ikan di dalam kolam
    Dilempar batu jatuh ke dalam
    Ummat Islam sedang terancam

    Akan terjadi suatu drama
    Ummat Islam harus waspada
    Maju kena, mundurpun kena
    Kepada Allah kita berdoa

    Tiada perlu berpikir lama
    Ummat Islam siaplah segera
    Membela negeri, tanah tercinta
    Diancam Komunis anti agama

    Ada ditulis di koran koran
    D.N. Aidit pernah mengatakan
    Orang P.K.I anti Tuhan
    Hatiku geram tiada tertahan

    Membaca syair mungkin bosan
    Tapi cerita perlu diteruskan
    Eseipun ditulis dalam karangan
    Silakan dibaca untuk dipikirkan

    1. Pemilu 1955 menghasilkan 4 partai yang mendapat suara terbanyak: yaitu PNI, Masjumi, NU dan PKI.
    Masyumi menang di luar Jawa sedangkan PNI, NU dan PKI mendapat suara terbanyak di pulau Jawa.

    2. Presiden Soekarno memilih PNI untuk memimpin kabinet/pemerintah dengan mengikutsertakan/merangkul PKI.
    Hal semacam ini ditentang oleh Masyumi karena kaum Komunis anti Tuhan dan menghalalkan kudeta untuk meraih kekuasaan, ..... dengan kata lain PKI anti demokrasi.
    Ketika itu Masyumi tidak menuntut agar PKI dibubarkan, bahkan di kemudian hari hal yang sebaliknya terjadi; yaitu Masjumi dan PSI dibubarkan. Kelak di tahun 1966 PKI dibubarkan oleh Jenderal Suharto sedangkan pada saat yang bersamaan presiden Soekarno tidak mau membubarkan PKI walaupun jelas jelas terlibat pemberontakan PKI/G30S.

    Sebagai pemuda usia belasan
    Di dalam hati aku tekadkan
    Membela Islam jadi pilihan
    Biarpun nyawa jadi taruhan

    Walau hidup masih membujang
    Tamat SGB di kota Padang
    Hatiku gembira tidak kepalang
    Menjadi guru sangatlah senang

    Mendapat tugas mengajar di kota
    Di Payakumbuh sebelah Utara
    Sekolah Rakyat istilah lama
    Mendidik murid di kelas lima

    Radilas Fanani kepala sekolah
    Mulutnya manis kucindan murah
    Kalau bicara selalu ramah
    Apa katanya tak pernah kubantah

    Sembilan orang teman seprofesi
    Empat pemuda, lima pemudi
    Kami mengajar setiap hari
    Mendidik siswa sepenuh hati

    Nikmat Allah sangat terasa
    Setiap hari berhati suka
    Sambil mengajar, belajar pula
    Mengikuti kursus di K.G.A

    Keadaan yang berubah

    Situasi politik berkembang cepat
    Orang Minang telah bersepakat
    Rezim Soekarno sedang berkhianat
    Jauh di hati harapan rakyat

    Achmad Husein muncul ke depan
    Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
    Lima hari lima malam waktu diberikan
    Pemerintah mundur dari kekuasaan

    Dua tuntutan dicatat sejarah
    Perlu ditandai tinta merah
    Berikan otonomi kepada daerah
    Orang Komunis jangan memerintah

    Presiden Soekarno bernafas sesak
    Para panglima sedang menggertak
    Daerah dianggap sebagai pemberontak
    Kaum Komunis lalu bersorak

    Soekarno marah bertambah berang
    Tentara dikirim untuk berperang
    Sumatera Tengah akan diserang
    Target utama ke ranah Minang

    Dari laut dan dari udara
    Kota Padang sasaran pertama
    Dijatuhkan bom membabi buta
    Banyak korban mati dan luka

    Karena kota kini tak aman
    Badan diri wajib diselamatkan
    Gaji terhenti tak bisa makan
    Lalu berunding sesama teman

    Menyusul kota diduduki APRI
    Tiada perintah, tanpa koordinasi
    Ke kampung kampung rakyat mengungsi
    Berbondong bondong berjalan kaki

    Ke Sitalang pergi mengungsi
    Didalam kecamatan Ampek Nagari
    Disitu bermukim sanak famili
    Mereka bekerja sebagai petani

    Nagari Sitalang Barajo Sorang
    Di kaki gunung beriklim sedang
    Penduduk ramah sangat periang
    Kepada dunsanak sangat sayang

    Semua orang taat beribadah
    Untuk kebaikan mau mengalah
    Perbuatan mudarat langsung dicegah
    Ketika berusaha pantang menyerah

    Ke Pasaman mendaftar jadi sukarelawan PRRI

    Pada akhir tahun 58
    Enam bulan waktu berjalan
    Aku berada di kampung halaman
    Kini datang suatu kesempatan

    Kesempatan baik untuk berbakti
    Menjadi sukarelawan pejuang PRRI
    Pergi berperang menyelamatkan negeri
    Dari serangan tentara APRI

    Di Ujung Gading dekat lautan
    Di sana bermarkas induk pasukan
    Kompi KKO diberi sebutan
    Letnan Isrul sebagai komandan

    17 pemuda berbadan sehat
    Percaya diri penuh semangat
    Lalu berkumpul mengadakan rapat
    Ingin berperang melawan Pusat

    Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
    Setelah berkumpul sambil berunding
    Siap berangkat ke nagari Silaping
    Dekat pantai di Ujung Gading

    Para remaja anak bujang
    Dari Batu Kambing dan Sitalang
    Ke rantau Pasaman pergi berperang
    Namanya ditulis untuk dikenang

    Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin, Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin, Paramai, Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih - 1 nama !

    Pagi hari sebelum berangkat
    Calon pejuang diberi nasehat
    Dilanjutkan doa kaum kerabat
    Kembali pulang dengan selamat

    Selesai bermohon kepada Tuhan
    Para remaja mulai berjalan
    Masuk hutan ke luar hutan
    Hanya berhenti ketika makan

    Walau kaki beralas sandal
    Baju di badan banyak bertambal
    Niat berjuang sejak awal
    Bukan ambisi ingin terkenal

    Berjalan kaki beriring iring
    Ada yang gemuk banyak yang langsing
    Melewati jalan di tepi tebing
    Bila tergelincir jatuh terguling

    Saat melewati banyak nagari
    Sumadang, Gudang, Tapian Kandi
    Padang Gantiang, Padang Sawah dan Kinali
    Terasa berada di kampung sendiri

    Ninik Mamak datang menyambut
    Diikuti orang tua berusia lanjut
    Berjabat tangan berebut rebut
    Meskipun malam telah larut

    Ketika sampai di batang Masang
    Sungai besar airnya tenang
    Rombongan berhenti karena terhalang
    Tiada titian untuk menyeberang

    Penduduk bertanya kepada yang tua
    Ke mana tujuan para pemuda
    Kami menjawab apa adanya
    Hendak ke Pasaman membela negara

    Karena rombongan pemuda PRRI
    Semua orang ikut bersimpati
    Rakit dipinjamkan oleh pak Haji
    Makanan disumbang Amai dan Umi

    Sesampai di Silapiang, kami dilatih selama 3 bulan dan selanjutnya ditugaskan ikut menyerang Kota Kinali yang dikuasai Tantara Pusat.
    Penyerangan dilakukan bersama Pasukan Kala Hitam, Pengawal Dahlan Djambek (P.D.D) dan Tentara Pelajar (TP).

    Di Pasaman kami ditempatkan
    Nagari Silapiang tempat latihan
    Letnan Isrul nama Komandan
    Pistolnya dua tetap ditangan

    Tiga bulan latihan perang
    Senjata diberi untuk perangsang
    Perasaan hati menjadi girang
    Ke tempat musuh siap menyerang

    Diakhir tahun 59
    Datang instruksi dari Komandan
    Semua senjata siap ditangan
    Ada perintah segera laksanakan

    Disiapkan ransel langsung diisi
    Dengan pakaian dan sebungkus nasi
    Perintah apel di sore hari
    KKO-AL ikut satu Kompi

    Pasukan bergerak setelah malam
    Kompi satu, Pasukan Kala Hitam
    Senjatanya lengkap ada meriam
    Komandannya bernama Letnan Agam

    Kompi dua, adalah Gabungan
    PDD dan TP jadi andalan
    Bila berperang tak bosan-bosan
    Siap menyerang, mampu bertahan

    KKO-AL, kompi ketiga
    Setiap personil pegang senjata
    Senjata berat KKO juga punya
    Mortir, Lmj serta Bazoka

    Azwar Tontong Komandan Operasi
    Profil tubuhnya besar dan tinggi
    Beliau berasal dari Kuranji
    Sekolah mayornya di luar negeri

    Isrul Ismail wakil Komandan
    Asalnya KKO-AL, berpangkat Letnan
    Memimpin perang sangat cekatan
    Pistolnya dua tetap ditangan

    Entah kemana tempat dituju
    Semua prajurit tiada yang tahu
    Sebagai anggota tak boleh ragu
    Para Komandan jadi penentu

    Berjalan terus dimalam gelap
    Sepicing mata tak pernah lelap
    Banyak berjalan kadang merayap
    Ke pos musuh siap menyergap

    Pukul tiga di malam itu
    Semua anggota diberi tahu
    Dengan bisikan satu persatu
    Kota Kinali sedang dituju

    Jam 5 pagi perintah disebar
    Senjata siap, peluru di kamar
    Tantara Pusat segera dikejar
    Kota Kinali menjadi gempar

    Tembakan dilepas dengan serentak
    Setiap anggota harus menembak
    Maju menyerang sambil bersorak
    Kota Kinali menjadi pekak

    Serangan dilakukan di pagi buta
    Gudang senjata sasaran utama
    Tentara Pusat sedang olah raga
    Kami merampas banyak senjata

    Pukul tujuh pagi hari
    Kota Kinali telah dikuasai
    Pasukan musuh melarikan diri
    Ada yang hidup, banyak yang mati

    Hanya 3 jam PRRI bertahan
    Perintah mundur dari Komandan
    Tentara Pusat dapat bantuan
    Kami mundur ke dalam hutan

    Arah dituju nagari Panti
    Di Lansek Kodok kami berhenti
    Peluru rampasan dibagibagi
    Sesuai senjata yang dimiliki

    Bila senjata yang jadi rampasan
    Segera diserahkan kepada Komandan
    Anak buah wajib melaksanakan
    Begitulah perintah dari atasan

    Lansek Kodok desa nan indah
    Penduduknya periang sangat ramah
    Mulutnya manis kucindan murah
    Sifat aslinya meninjau jarah

    Di Lansek Kodok, pasukan kami bermarkas selama enam bulan.
    Tugas utama adalah menjaga jalan lintas antara Panti di perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara.

    Tahun 1960 pada bulan Juli
    Tanggalnya lupa tak ingat lagi
    Pos KKO-AL pindah domisili
    Ke kota kecil dekat Suliki

    Koto Bangun namanya desa
    Masyarakat menyambut dengan gembira
    Satu bulan dinas di sana
    Setiap sa’at siap siaga

    Kami berada di garis depan
    Berbatasan langsung dengan pos lawan
    Kubu pertahanan di pinggir jalan
    Markas dibangun di dalam hutan

    Kota Bangun desa disayang
    Selama di sana hatiku senang
    Banyak pengalaman tetap terkenang
    Walaupun lama, tiada kan hilang

    Setelah cukup satu bulan kami bermarkas di Koto Bangun maka datanglah perintah untuk berangkat menuju Tapanuli Selatan.
    Untuk menjaga rahasia perjalanan, maka jalan hutan yang dilalui melintasi perbatasan Propinsi Sumatera Barat dan Propinsi Riau.
    Setelah memasuki daerah Propinsi Riau kami mendapat peristiwa yang sangat menyedihkan.
    Dua orang perwira dalam pasukan kami, yaitu Kapten Bachtiar dan Letnan Emir D.D menjadi korban.

    Bulan Agustus pasukan berangkat
    Ke perbatasan Riau dituju tepat
    Tugas dijalan sangatlah berat
    Mengawal Petinggi serta Pejabat

    Ransel diisi bekal di jalan
    Berupa beras dan makanan ringan
    Ada yang membawa roti kalengan
    Disertai pula obat-obatan

    Lama hidup banyak dirasa
    Jauh berjalan banyak bersua
    Di dalam hutan bertemu gua
    Gua besar, luar biasa

    Luasnya gua alang-kepalang
    Dapat menampung seribu orang
    Di dalam gua terlihat terang
    Dari udara tak tembus pandang

    Didalam gua kami istirahat
    Banyak berdoa sesudah shalat
    Makan dan minum terasa nikmat
    Selesai istirahat langsung berangkat

    Sepuluh hari berada diperjalanan
    Sampai ke daerah Pasir Pangaraiyan
    Kami berhenti di pinggir hutan
    Menunggu tambahan bahan perbekalan

    Pasukan ditemui oleh Pak Camat
    Beliau menyampaikan ucapan selamat
    Lalu meminta dengan hormat
    Jangan menyerang Tantara Pusat

    Camat bicara blak-blakan
    Beliau siap memberi bantuan
    Berbentuk uang dan bahan makanan
    Tapi hindari ada pertempuran

    Para Komandan segera rapat
    Untuk memilih jalan yang tepat
    Apakah menyerang Tantara Pusat
    Atau menerima usul Pak Camat

    Dalam waktu tidak lama
    Komandan Pasukan angkat bicara
    Usul Pak Camat harus diterima
    Tapi anggota banyak yang kecewa

    Mendengar putusan dari Komandan
    Emosiku muncul tidak tertahan
    Pikiran berontak dipengaruhi Setan
    Aku melepas satu tembakan

    Tindakanku itu sangatlah salah
    Memegang senjata tidak amanah
    Letnan Isrul sangatlah marah
    Aku dikatakannya anak bedebah

    Hukum disiplin aku diberi
    Senjata meletus karena emosi
    Hukum kuterima sepenuh hati
    Senjata ditarik sepuluh hari

    Walau aku dicaci maki
    Namun tidak berkecil hati
    Karena kesalahan aku sadari
    Tindakan itu beresiko tinggi

    Kami menunggu selama sebulan
    Perintah datang segera tinggalkan
    Berangkat menuju Tapanuli Selatan
    Lalu mempersiapkan bekal di jalan

    Supaya aman pasukan di jalan
    Kami memilih jalan di hutan
    Rute melintasi daerah perbatasan
    Antara Sumbar dan Riau Daratan

    Setelah di Riau kami berada
    Dapat berita suatu peristiwa
    Berita sedih tiada terkira
    Dua komandan mati seketika

    Aku menerima hukuman karena tidak disiplin dalam memegang senjata.
    Senjataku diambil Komandan dan setelah sepuluh hari senjata dikembalikan lagi kepadaku.
    Memasuki daerah Tapanuli Selatan sampailah kami ke desa Penarik.
    Di desa Penarik kami disambut dengan senang hati oleh Pasukan Pusuk Buhit.
    Tapanuli Selatan adalah daerah operasional dari Pasukan Pusuk Buhit tersebut.

    Pasukan kami KKO-AL ditempatkan sementara di desa Aik Nabara.
    Setelah sepuluh hari istirahat didesa Aik Nabara maka satu Pleton KKO-AL termasuk saya bergabung dengan dua Pleton Pasukan Pusuk Buhit melaksanakan tugas melakukan penyerangan ke Pos Abri di Nagaseribu, Padang Bolak pada tanggal 14 Nopember 1960.

    Pada pertempuran yang berlangsung selama 7 jam beberapa orang dari pasukan KKOAL gugur dan aku tertangkap hidup.
    Aku dibawa ke Medan dan diperiksa di Kodam I Bukit Barisan, Kepolisian dan Kejaksaan Sumatera Utara.
    Selanjutnya aku ditempatkan di penjara Pulau Berayan.
    Aku dibebaskan pada tanggal 1 Agustus 1961.

    Demikianlah sekelumit pengalaman hidupku semasa remaja.
    Aku selalu bersyukur kepada Allah swt yang telah melindungiku.
    Aku selalu berdo’a semoga Allah swt melimpahkan rahmat Nya kepada Bangsa Indonesia serta memberi petunjuk kepada Pemimpinpemimpin bangsa sehingga tercapainya masyarakat yang adil sejahtera aman makmur mendapat perlindungan Allah swt.

    Hasan dan Husen saudara kembar gugur menepati janji

    Untuk dicontoh para remaja
    Menjadi teladan sampai tua
    Hasan dan Husen tak berebut harta
    Ketika berperang sesama saudara

    Saudara kembar Husen dan Hasan
    Bermuka mirip susah dibedakan
    Hobinya sama, senang berteman
    Ketika bergolak saling berlawan

    Bukan karena dapat indoktrinasi
    Tapi keyakinan hak azasi
    Husen menjadi pejuang PRRI
    Hasan bertugas di kesatuan APRI

    Hasan dan Husen saling berhadapan
    Ketika berperang dalam pertempuran
    Keduanya tewas rela berkorban
    Demi menjaga suatu kehormatan

    Husen tewas mati terbunuh
    Dalam pertempuran di nagari Situjuh
    APRI yang datang dari Payakumbuh
    Membawa prajurit berpuluh puluh

    Dia sahid membela keyakinan
    Bergabung PRRI dalam perjuangan
    Menerima takdir ketetapan Tuhan
    Jannatun naim sebagai balasan

    Lain lagi tewasnya Hasan
    Sebagai prajurit jadi teladan
    Selalu patuh peintah atasan
    Semua tugas dia laksanakan

    Saat Hasan sedang bertugas
    Untuk patroli di ujung batas
    Pejuang mengintai di bukit atas
    Hasan tertembak langsung tewas

    Semua prajurit punya tradisi
    Mengucapkan sumpah serta janji
    Hasan contoh prajurit sejati
    Melaksanakan sumpah menepati janji

    Begini janji saat disumpah
    Prajurit patuh pada perintah
    Ketika bertempur haram menyerah
    Instruksi komandan pantang dibantah

    Dalam korps pasukan APRI
    Hasan ternyata prajurit sejati
    Menepati sumpah ketika berjanji
    Hasan terbunuh saat beroperasi

    Walau tiada ditampilkan foto
    Inilah sedikit sebagai info
    Hasan dan Husen bersuku Koto
    Anak kemenakan Dt. Tan Bandaro

    Bapaknya bernama Kari Sili
    Seperti umumnya penduduk Nagari
    Kerja di kampuang jadi petani
    Sambil memelihara ternak Sapi

    Mat Asan pahlawan tak dikenal dari nagari Sitalang

    Mat Asan bujang pilihan
    Tinggal di Sitalang tiada bosan
    Terlalu banyak meninggalkan kesan
    Bagi anak cucu jadikan teladan

    Asan rajin dan sangat pintar
    Guru heran ketika mengajar
    Semua pertanyaan dijawab lancar
    Dengan kawan senang kelakar

    Bila guru menghitung salah
    Asan langsung siap menyanggah
    Kalau timbul ricuh dan telagah
    Sering gurunya yang mengalah

    Sifat sosialnya Allohu Robbi
    Sanggup menolong petang dan pagi
    Tak pernah dia meminta gaji
    Terkadang orang ikhlas memberi

    Keluarga Mat Asan orang tak mampu
    Sawah tak punya, rumahpun bambu
    Lima beradik bahu membahu
    Menegakkan kaum bersatu padu

    Jaman berperang melawan NICA
    Tenaganya dipakai oleh tentara
    Menjadi penyelidik atau mata-mata
    Mengantar nasi dikerjakan pula

    Perang selesai Mat Asan terlupakan
    Tidak dihargai sebagai veteran
    Lalu berjualan, pekan ke pekan
    Menyambung hidup mencari makan

    Ada istimewa pada Mat Asan
    Bisa terlelap sambil berjalan
    Meski di kepala ada beban
    Tidur pulas sampai di tujuan

    Saat pergi ke Lubuk Basung
    Asan terbangun lalu ke warung
    Tiada lagi beban yang dijunjung
    Minum segelas, makan secambung

    Pristiwa terulang di masa PRRI
    Mat Asan kembali ikut mengabdi
    Tugas utama mengantar nasi
    Untuk pemimpin yang sedang mengungsi

    Muhammad Natsir bersama rombongan
    Pagi dan petang diantarkan makan
    Biarpun gerimis ataupun hujan
    Nasi tak mungkin ditahan tahan

    Ada pada suatu ketika
    OPR mengadu kepada tentara
    Tentang Asan punya kerja
    Dia ditangkap untuk diperiksa

    Asan dibawa ke dalam hutan
    Mata ditutup dengan sapu tangan
    Jari diikat ke belakang badan
    Lalu dipukuli sepanjang jalan

    Penduduk Sitalang hati terluka
    Dengan Mat Asan di akhir usia
    Nyawa melayang di ujung senjata
    Jasadnya hilang tak tahu rimba

    Kepada orang Sitalang kami berpesan
    Buatkan kuburan di pinggir jalan
    Nyatakan dia seorang pahlawan
    Hidupnya berjasa penuh kenangan

    Walaupun di kampung dia mengabdi
    Ikut berjuang membela pertiwi
    Tidak berharap upah komisi
    Itulah Mat Hasan pahlawan sejati

    Karena penulis habis inspirasi
    Kisah tak lagi berbentuk puisi
    Cerita diteruskan dalam narasi
    Kalimatnya disusun teratur rapi

    Dukun Paranormal ikut mendukung perjuangan

    Datuk Sati Durahman orang Sitalang
    Mendukung PRRI tidak kepalang
    Meski bukan tentara bersenapang
    Semangat Datuk perlu dikenang

    Tidak dipaksa, tidak disuruh
    Membantu perjuangan secara penuh
    Dilakukan masyarakat bersungguh sungguh
    Ketika Sitalang menghadapi musuh

    Anak nagari sangat percaya
    Datuk Sati pendekar ternama
    Sangat disegani banyak ilmunya
    Memberi keyakinan kepada warga

    Mamak dan Amai serta remaja
    Orang Siak ataupun parewa
    Ke batas nagari pergi bersama
    Mengiringi Datuk sambil berdoa

    Di batas nagari secara makrifat
    Pagar Gaib lalu dibuat
    Pedang diacungkan disertai niat
    Tentara Soekarno tak bisa mendekat

    Dalam suasana agak mistis
    Saat turun hujan gerimis
    Orang terharu ada yang menangis
    Pedang diacungkan, tanah digaris

    Ibarat tembok dinding tinggi
    Peristiwa aneh penuh misteri
    Kelak kemudian benar terbukti
    Pagar gaib tak pernah dilewati

    Tentara Soekarno ketika datang
    Melalui Tantaman jalan yang lengang
    Lalu turun ke nagari Sitalang
    Kampuang dimasuki dari belakang

    Bantuan Masyarakat

    Saat terjadi pertempuran hebat
    Di nagari Kamang sebelah barat
    Kapten Bachtiar terluka berat
    Kakinya tertembak peluru granat

    Bachtiar ditandu berjalan kaki
    Di jalan setapak rimba yang sunyi
    Melewati batas banyak nagari
    Menuju Sitalang untuk diobati

    Karena kakinya terluka parah
    Kondisi Bachtiar sangat lemah
    Dia dipinjami sebuah rumah
    Milik Usman Datuk Batuah

    Bachtiar diungsikan ke Sitalang
    Melewati rimba hutan terlarang
    Dari Tantaman terus ke Gumarang
    Rutenya berat tidak kepalang

    Jalan setapak di dalam rimba
    Dipakai orang sejak lama
    Kini digunakan sipil dan tentara
    Ketika mengungsikan korban yang luka

    Waktu menempuh rimba hutan
    Orang tua penunjuk jalan
    Anak muda pembawa beban
    Prajurit mengawal ada di depan

    Rumah datuk sangat besar
    Berlantai kayu beralas tikar
    Di tepi jalan tanpa pagar
    Kini dipinjamkan kepada Bachtiar

    Meski Bachtiar orang jauh
    Sedang dicari diintai musuh
    Orang Sitalang ikhlas sungguh
    Bachtiar diobati sampai sembuh

    Enam bulan Bachtiar dirawat
    Diberi jamu disertai obat
    Sampai tubuhnya menjadi kuat
    Melanjutkan perang melawan Pusat

    Orang Ronda memiliki andil menjaga nagari

    Karena takut dijadikan sandera
    Penduduk kampung sembunyi di rimba
    Mungkin sehari atau dua
    Menunggu musuh pulang ke kota

    Tugas utama orang ronda
    Memukul Tontong tanda bahaya
    Memberi tahu sanak saudara
    Musuh datang membawa petaka

    Siasat berperang sejak dahulu
    Kebiasaan operasi para serdadu
    Mereka datang sewaktu waktu
    Tiada tanda pemberi tahu

    Dalam hening sunyi senyap
    Waktu malam sangat gelap
    Ronda berjaga harus siap
    Dilarang tidur walau sekejap

    Kalau ronda terlelap tidur
    Disertai nafas bunyi mendengkur
    Alamat nasib tak kan mujur
    Siapkan diri besok dikubur

    Untuk sembunyi ke semak semak
    Ketika musuh telah tampak
    Tanpa perintah melalui teriak
    Tontong dipukul dengan serentak

    Terkadang sembunyi secara kelompok
    Membawa persediaan kebutuhan pokok
    Termasuk Lading ataupun Golok
    Disebut orang pergi "ijok"

    Ronda bergiliran diatur pak Wali
    Sesudah bertugas tidak digaji
    Bahan makanan bawa sendiri
    Nasi disiapkan para isteri

    Saat perang bukan frontal
    Petugas ronda sangat vital
    Penduduk nagari mereka kawal
    Dibalas Tuhan sebagai amal

    Akibat kalah bertempur

    Sesudah PRRI kalah bertempur
    Adat Minang menjadi mundur
    Pangulu diam disuruh tidur
    Dilarang bicara, jangan mengatur

    Ibarat pasukan tentara APRI
    Saat mengalahkan pejuang PRRI
    Begitulah kota merusak nagari
    Mamak kehilangan harga diri

    Orang kota ada yang serakah
    Kini datang membuat masalah
    Bukit dan gunung semua dirambah
    Pohon dihutan ditebang rebah


    Kerusakan lingkungan telah terjadi
    Air di sungai menyusut sekali
    Masalah besar untuk nagari
    Perlu dianalisa dengan diskusi

    Bukti nyata berbentuk fakta
    Lubuak Karambie sepohon Kelapa
    Kini dangkal tinggal sehasta
    Karena kerusakan di hulu rimba


    Lubuk Tabiang di tepi jalan
    Dahulu di situ bujang berlompatan
    Terjun ke sungai bersama teman
    Telah kering seperti daratan

    Waktu hujan terlambat datang
    Batang Bawan di nagari Sitalang
    Sangat menyusut hampir kerontang
    Akibat pohon banyak ditebang

    Ketika cukong beserta konco
    Merusak hutan dengan sembrono
    Penduduk kampung menanggung resiko
    Terjadi banjir disertai galodo

    Konconya mungkin di Lubuk Basung
    Anak parewa cerdik tanggung
    Tidak malu, tiada canggung
    Melupakan dunsanak orang sekampung

    Dua ribu tujuh, galodo besar
    Sawah tertimbun sepuluh hektar
    Oleh kerikil dan batu besar
    Kini tanah jadi terlantar

    Waktu banjir 2007
    Seperti manusia sedang mengeluh
    Jawi yang hanyut melenguh lenguh
    Ternak mati berpuluh puluh


    Niniak Mamak sangat risau
    Ketika hutan dibabat sinsau
    Walau diprotes sampai parau
    Dikalahkan amplop berisi ang pau

    Sudah menjadi rahasia umum
    Ang pau dibagi kepada oknum
    Untuk menyogok penegak hukum
    Aturan dilanggar dengan senyum

    Ketika menjarah hutan ulayat
    Orang kota mengatur siasat
    Si Buyung diberi mainan yang nikmat
    Sehingga lupa nasib kerabat

    Mainan yang nikmat bermacam macam
    Dari dangdut sampai Handycam
    Termasuk pula kehidupan malam
    Industri pariwisata ada di dalam

    Setelah kayu hilang di bukit
    Kehidupan nagari menjadi sulit
    Masyarakat dibujuk sedikit sedikit
    Turis kan datang membawa duit


    Industri pariwisata mendirikan hotel
    Sering maksiat ikut menempel
    Ada peragaan para model
    Mata terbelalak sampai pegel

    Kodak kerusakan Lingkungan di Sitalang


    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH || WISRAN HADI
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px