sejarah
Hari ini Sabtu tanggal 25 October: pada tahun 1933 Plakat Panjang diumumkan untuk mengakhiri perang Padri
HALAMAN UTAMA
HUBUNGI KAMI
ENGLISH VERS.
MINANG KABAU
BUKU TAMU
BAGALANGGANG
  • Lhk Tnh Data[16-76]
  • Lhk Agam[4-73]
  • Lhk 50 Koto[9-76]
  • Pasaman[0-30]
  • Pasaman Brt[2-19]
  • Pesisir Sltn[0-36]
  • Sijunjuang[1-45]
  • Dharmasraya[0-21]
  • Solok[0-75]
  • Solok Selatan[0-13]
  • Pdg Pariaman[0-46]
  • Kt Bukit Tinggi[0-5]
  • Kt Padang[0-22]
  • Kt Pdg Panjang[0-4]
  • Kt Payakumbuh[0-7]
  • Kt Pariaman[0-9]
  • Kt Swh Lunto[0-14]
  • Kt Solok[0-1]
  • Surat Gubernur
  • PESAN ADMIN
    1. Untuk menindaklanjuti surat Gubernur kepada Rektor Perguruan Tinggi ttg. pembangunan nagari-nagari saiber, dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat SB untuk 'Baliak ba nagari, kambali ba Surau' maka kini saatnya Generasi Muda mengambil peran

    2. Webmaster-Admin (68 th.) bersedia memberi petunjuk gratis cara pembuatan situs semacam itu kepada anak-kemenakan/mahasiswa.

    2. Praktekkan ilmu yang telah Anda pelajari di sekolah-sekolah khususnya ilmu Komputer/komunikasi

    3. Waktu bagi anak-anak muda, tak boleh dibuang percuma hanya karena 'sedang gilo maliek baruak barayun' di panggung-panggung hiburan, di televisi dan di mal-mal.

  • Calon Promotor
  • Masalah Besar I
  • Masalah Besar II
  • Malu indak dibagi
  • Asalnya Masalah
  • Agenda Kita
  • Nan Berprestasi

  • Batuka pandapek dgn urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang:

  • Gubernur SB: Waktu dalam konfirmasi !

  • L.K.A.A.M - S.B
    Minggu pertama, malam pk. 20.00 - 22.00 setiap bulan atau konfirmasi ke: 0812 661 6986

  • Ketua DPRD Sumbar: Waktu dlm konfirmasi !
  • Bakirim email unt. Mamak:
  • di LKAAM
  • di DPRD
  • di DPD

  • GURITIAK dari PALANTA MAK SATI
  • PRRI di nagari Tabek Sw. Tangah - 9737
  • Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang - 60823
  • Tugu untuk mengingat PRRI di nagari Muaro Paneh - 248329
  • 17 orang pemuda Sitalang berangkat ke Silapiang menjadi pejuang PRRI - 449867
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Keamanan dan Pertahanan - 371679
  • Nagari sebagai Unit Kesatuan Ekonomi - 360467
  • P.R.R.I di nagari Rao Rao: Pendidikan di saat perang - 449147
  • PRRI dalam Pergolakan Daerah th. 1950-an - 366100
  • PDRI , PRRI dan Sjafruddin Prawiranegara - 433981
  • PRRI di nagari Tanjuang Sungayang - 463659
    Lihat Judul-judul Guritiak lainnya
  • Sabai & Mangkutak & JilaAtang di jaman Digital (Wisran Hadi)
  • Orang Minang
  • Paham di nan Duo
  • Cupak nan Duo
  • Alexander the Great
  • Takana jo kawan!
  • Penyumbang situs
  • Toko Buku UNP
  • PERLU
    KISAH PRIBADI
    Telah dibaca oleh: 537976 orang.

    Pariwisata, Hotel, Cafe dan Pelacur

    Dikarang oleh : admin

    MinangKebo

    Berita pertama

    Dikutip dari rantaunet@googlegroups.com, Sabtu, 19/07/2008 19:48 WIB
    Remang-Remang Kehidupan Malam di Bukittinggi
    oleh: Habib
    Kata kunci: Sumbar, wisata, hotel / cafe, kp. cina, psk / lonte, warga lokal, ranah Minang

    Suasana malam di Jam Gadang Bukittinggi, ada kehidupan lain disudut-sudut kota yang tak terbaca.

    Hawa dingin, malam, pekan silam benar-benar menidurkan Bukittinggi.

    Malam hanya menyisakan kelam.

    Tak banyak terlihat anak muda nongkrong di tempat hiburan, tepatnya disebut cafe di kawasan Jalan A. Yani.
    Kampuang Cino tempat cafe-cafe melayani turis.
    Para teroris di dalam sidang pengadilan subversif bulan Januari 2009 di Jakarta mengakui, bahwa mereka membatalkan peledakan bom karena di kafe terlihat ada wanita Muslim yang berjilbab. Untunglah Allah masih melindungi kalian dari bom teroris. Tantu pangalaman iko jadi pelajaran, hanya Keledailah yang bisa terperosok ke lubang yang sama. Orang Minangkabau bukanlah Keledai.
    Kampuang Cino tempat cafe-cafe melayani turis.
    Untunglah Allah masih melindungi kalian dari bom teroris.
    Tantu pangalaman iko jadi pelajaran, hanya Keledailah yang bisa terperosok ke lubang yang sama.
    Orang Minang Kabau bukanlah Keledai.

    "Kalau bukan malam minggu memang agak sepi," kata seorang penjaga cafe.
    Hawa Bukittinggi yang basah dan terpaan udara dari beberapa buah kipas angin di ruang yang temaram di dalam cafe itu, membuat dingin terasa kian menyayat.

    Tetapi kawasan yang satu ini memang tidak pernah sepi.
    "Uang tetap masih laku hingga subuh di sini," kata seorang pengunjung yang mengaku datang dari Payakumbuh.
    Beberapa bule memang ada dalam cafe itu.
    Dan itu adalah pemandangan umum sepanjang malam di Kampung Cina.
    Toh, the show must go on.

    Tepat tengah malam, dari sebuah kendaraan mewah keluar sesosok pria muda menenteng tas.
    Penampilannya tak jauh beda dengan pengunjung cafe.
    Mengenakan baju kaos, berjaket kulit berwarna coklat, dan kaki dibalut sepatu kets.
    Dandanannya amat santai.
    Wajahnya segar meski malam sudah beranjak tua.

    Pria itu duduk di pojok ruangan, memanggil pelayan, memesan secangkir minuman.
    Tas yang dia tenteng diletakkan di sudut kursi duduknya.
    Sesaat mengeluarkan handphone dari saku jaketnya, menekan nomor tujuan pada tuts alat komunikasi kecil itu lalu berbicara beberapa saat. (di jaman kemajuan komunikasi saat ini, para pelacur tidak perlu dikumpulkan di dalam rumah bordil/mencolok, tapi cukup disewakan hotel dan cafe sebagai sarana transaksi ... !)

    "Abang sudah di sini, dimana sekarang?" kata pria itu.
    Terjadi dialog sejenak.
    "Oke, sepuluh menit," kata pria itu.
    Handphone mati.
    Alat itu dimasukkan kembali ke dalam saku jaketnya.
    Duduk sesaat. Menyeruput secangkir minuman yang baru dia pesan.
    'Aku makin cinta' tembang merdunya Vina Panduwinata terdengar melonkolis di sudut-sudut cafe.

    Tepat sepuluh menit kemudian, dua gadis masuk cafe.
    Berkaos oblong lengan panjang.
    Ketat.
    Sangat seksi.
    Satu berwarna biru tua, satunya lagi berwarna ungu.
    Keduanya melihat kiri kanan.
    Pria muda tadi yang melihat kedua gadis itu melambaikan tangan.
    Kedua gadis mendekat.
    Bersalaman, duduk dan memanggil pelayan.
    Keduanya juga memesan minuman.

    Selanjutnya yang terdengar gelak tawa mereka.
    Bicara ngalor ngidul ke sana ke mari dan tak begitu jelas.
    Sesekali terlihat, kedua gadis berusia sekitar 20 tahun itu mencubit nakal si pria.
    Sementara, di ruangan cafe itu, ada sekitar 8 pengunjung.
    Juga berpasang-pasangan.
    Asap rokok mengepul di langit-langit cafe.

    Dua puluh menit kemudian, pria dan dua gadis muda itu beranjak.
    Membayar minuman lalu keluar cafe.
    Ketiganya masuk ke dalam mobil jenis Kijang Innova milik si pria, lalu meluncur ke arah utara.

    Penasaran, padangmedia.com membuntuti mobil itu.
    Menumpang taksi yang mangkal di depan cafe.
    Karena lajunya tidak begitu cepat, mobil itu pun mudah diikuti.
    Dan, sekitar 15 menit perjalanan, sepanjang 3 km di perbatasan Bukittinggi, mobil itu masuk gerbang sebuah hotel.
    Langkah terputus.

    "Tidak turun, Da? Tidak menginap?," tanya sopir taksi kepada padangmedia.com.
    "Tidak, saya hanya ingin tahu kemana mobil itu pergi," jawab padangmedia.com.
    "Wah, kalau yang seperti gituan di sini biasa, Da. Janjian di cafe-cafe, ujungnya, ya, di hotel," kata sopir taksi.
    Peluang langkah investigasi padangmedia.com kembali terbuka.
    Dialog dengan sopir taksi bernama Herman (45), itu pun berlanjut.

    "Selain di cafe-cafe, dimana lagi bisa betemu dengan gadis-gadis seperti itu?" pancing padangmedia.com.
    "Uda wartawan? Atau anggota (maksudnya aparat-red)?" tanya Herman, si sopir taksi.
    "Ah, saya hanya ingin tahu saja," elak padangmedia.com .
    Pria yang mengaku orang Padang itu tak lagi bertanya.

    Lalu padangmedia.com meminta agar dibawa kembali ke Bukittinggi.
    Mobil berbalik arah meninggalkan gerbang hotel.
    Terjadi dialog-dialog di dalam taksi.

    "Kalau uda mau cari gadis-gadis seperti gituan, di Bukittinggi mudah, Da." kata Herman.
    Tanah ulayat/siapa yang dijadikan tempat berdirinya hotel ini ... ? Apo indak takuik ka dihaban galodo gunuang Marapi.

    "Oya, mudah gimana?" pancing padangmedia.com lagi.
    "Kita balik saja ke cafe tadi. Di depan cafe banyak gadis-gadis muda yang bisa dibawa dan mendekat ketika dipanggil, apalagi mangsanya bawa mobil, karena aksi mereka lebih aman," ujarnya.

    Sepuluh menit kemudian, taksi sampai kembali ke kawasan Jalan A Yani, Kampung Cina.
    Benar kata sopir taksi.
    Malam semakin beranjak, semakin ramai kawasan itu oleh sekelompok anak muda, pria dan wanita.
    Berpakaian necis.
    Di depan cafe, parkir sederatan sepeda motor.
    Di pinggiran jalan, mobil-mobil mewah parkir berjejer.
    Terlihat ada satu mobil berplat merah.
    Di dalamya duduk tiga anak muda, satu pria dua wanita.
    Dan, tak jauh dari cafe, warung-warung penjual nasi goreng, sate maupun pecel lele di kawasan itu ramai ditandangi pembeli.

    Taksi parkir tidak jauh dari Jembatan Limpapeh.
    Di trotoar, beberapa gadis melintas.
    Berusia muda dan seksi.
    Beberapa orang di antaranya masuk ke dalam cafe, yang lainnya berdiri di sudut-sudut pertokoan yang tutup dan tempat mobil-mobil parkir.

    Sekitar sepuluh menit kemudian, dua gadis mendekat ke arah taksi yang ditumpangi padangmedia.com.
    "Bang, boleh minta rokok?" kata gadis berambut pirang.
    Untung saja, sopir taksi memiliki persediaan rokok.
    Sebatang sigaret merek Sampoerna itu pun diambil dari bungkusnya dan gadis itu membakar dan menghisapnya.
    Asap rokok mengepul di dalam taksi.

    "Di luar dingin, masuk saja ke dalam mobil," tawar si sopir taksi.
    Merasa mendapat peluang, kedua gadis itu masuk.
    Pintu taksi terbuka dan keduanya duduk di jok bagian belakang.
    "Iya, diluar dingin.
    " kata kedua gadis itu.
    "Ada rencana ke Payakumbuh, Bang?" tanya gadis berambut panjang.
    "Payakumbuh? Apa tinggal di sana?" tanya padangmedia.com.
    "Iya, kami tadi dari Padang.
    Singgah di Bukittinggi sebentar, biasalah, kan abang tahu sendiri," kata gadis berambut panjang sembari tersenyum. Manis.

    padangmedia.com menawarkan sopir taksi jalan-jalan.
    Kedua gadis malah minta dibawa ke sebuah hotel berbintang di kota wisata itu.
    Untung saja, si sopir taksi cukup berpengalaman soal mengalihkan alasan gadis-gadis itu.
    Aman.
    Di dalam taksi, padangmedia.com berhasil mendapatkan identitas kedua gadis itu.
    Yang berambut panjang bernama Maya (untuk menjaga etika nama kedua gadis itu disamarkan-red), 29 tahun, dan oleh Laura (bukan nama sebenarnya), 20 tahun, gadis disebelahnya, Maya dipanggil bunda.

    Maya sudah pernah menikah, punya satu anak, namun dia ditinggalkan suaminya yang kawin 'batambuah'.

    Karena merasa dikhianati, Maya memilih nekat menjadi Pekerja Seks Komersil (PSK/Lonte) yang mencari mangsa dari satu kota ke kota lainnya.

    Di Sumatera Barat, Maya beroperasi di Kota Padang, Kota Bukittinggi dan Payakumbuh.

    "Anak saya baru berumur lima tahun dan saya titipkan sama orang lain," ujar Maya.
    Wajahnya menunduk.

    Sedangkan Laura mengaku baru mengenal Maya yang juga sama-sama tinggal di Payakumbuh.
    Laura belum menikah dan sering dibawa Maya ke luar kota.
    Namun, dia mengaku masih menjaga kegadisannya.

    Sesaat kemudian, Laura yang selama di dalam taksi itu tampak gelisah meminjam handphone padangmedia.com, lalu mengetik tuts dan mengirim SMS ke nomor tujuan 08136335xxxxx.
    Karena item terkirim tidak ia hapus, padangmedia.com sempat membaca isi SMS itu.

    Bunyinya, "Bang, tunggu telpon aku besok ya. Aku janji tidak bohong lagi. Aku tadi ke Padang dan sekarang di Bukit, kalau abang sempat jemput aku kemari. Balas."
    Entah kepada siapa SMS itu ia kirim.
    Kalau dari isi, tujuannya pada seorang lelaki. Tak jelas, apakah kakaknya, pacarnya, atau juga ia berbohong kalau sebenarnya gadis itu sudah bersuami.
    Sampai laporan ini ditulis, tak ada balasan yang diterima ke handphone padangmedia.com.
    Laura mengaku tidak membawa HP.

    Kota Bukittinggi yang kecil tidak membawa jauh perjalanan itu. Hingga akhirnya, Maya dan Laura minta diantarkan lagi ke cafe karena ada orang yang menelpon dan janjian di cafe.

    Taksi pun berbalik arah menuju kawasan Kampung Cina yang tak pernah sepi, meski dingin malam menjadi saksi bisu remang-remang kehidupan malam di kota itu.

    Berita ke 2

    Jumat, 28/03/2008 10:38 WIB
    Budi Hartadi - detikNews Jakarta

    Gaya PSK Padang Mencari Mangsa

    Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya.
    Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.
    Tak terkecuali soal urusan esek-esek.

    Di kota Padang, Sumatera Barat, misalnya.
    Para Pekerja Seks Komersial (PSK) mempunyai cara tersendiri menggaet pelanggannya.
    Maklum, di kota ini aturan mengenai bisnis hiburan malam sangat ketat.
    Seluruh kegiatan hiburan malam di kota tersebut harus tutup pukul 22.00 WIB.

    Namun apakah semua 'kegiatan malam' di kota itu otomatis terhenti semuanya? Awalnya, memang terlihat seperti itu.
    Sampai akhirnya, sebuah taksi berwarna biru menghampiri detikcom dan sejumlah wartawan lain yang sedang ngobrol di alun-alun kota Padang, Jl Diponegoro, Kamis (27/3/2008).

    "Mau ditemani, Mas," tiba-tiba suara halus nan genit menyeruak dari kaca jendela belakang taksi yang terbuka.
    Kami semuanya pun kaget.

    "Tarifnya murah kok," sambung si pemilik suara tersebut.
    Kekagetan kami pun semakin menjadi.
    Karena kami mengira taksi itu berhenti untuk menanyakan sesuatu.
    Walah, ternyata dia adalah seorang PSK yang sedang mencari rezeki dari pria-pria iseng.

    Tentu ini fenomena unik bagi detikcom dan wartawan lain yang baru kali pertama berkunjung ke Ranah Minang itu.
    Tertarik ingin tahu lebih jauh, seorang teman mendekati wanita, sebut saja Laras, itu.

    Laras ternyata tidak sendirian.
    Di dalam taksi itu ada 3 wanita lain yang juga masih muda dan genit.
    Aneka pertanyaan pun muncul dari sang teman itu.
    Mulai dari perkenalan iseng sampai soal tarif.

    "Rp 200 ribu untuk short time," jelas Laras, masih dari dalam taksi.
    Wanita yang mengaku sebagai warga lokal ini menjamin semuanya akan berlangsung aman.
    Mereka punya tempat khusus untuk menuntaskan proses transaksi terlarang itu.

    "Tenanglah, kita punya tempat yang aman kok. Tidak jauh dari sini.Pokoknya aman tidak akan ada razia," ujar Laras, terus mencoba meyakinkan kami.

    Namun dengan sedikit trik, sang teman berhasil menolak tawaran nyeleneh itu dengan halus.
    Dengan sedikit kecewa, Laras dan teman-temannya akhirnya berlalu.
    Tawa genit berbaur dengan deru mesin saat taksi biru itu meninggalkan kami untuk kembali 'berburu' di kegelapan malam.
    (djo/nrl)


    Berita Ketiga

    palanta@minang.rantaunet.org, rgm_gm@yahoogroups.com
    Add to Address Book Add Mobile Alert
    Date: Tue, 19 Dec 2006 11:30:14 -0800 (PST)
    Subject: [RGM_GM] Dima Nyo ABSSBK

    Mengintip Kehidupan Malam di Kota Bingkuang: Pub, Tempat Transaksi Seks dan Narkoba?

    Rabu, 20-Desember- 2006, 02:33:44 12 clicks
    Tak salah orang bilang, sekarang ini zaman edan.
    Batas moral dan susila nyaris tak ada.

    Jika dulu, anak gadis tabu keluar rumah larut malam, kini dugem (dunia gemerlap), sudah mulai merasuki kehidupan gadis Minang.
    Akhir pekan silam, satu per satu anak baru gede (ABG) tiba di sebuah pub (diskotik) salah satu hotel berbintang di Kota Padang.

    Mereka umumnya datang berpasang-pasangan.
    Namun tak sedikit pula yang datang bergerombolan, menaiki taksi.
    Malam itu, mereka (ABG perempuan, red) umumnya, datang dengan busana seronok.
    Yakni, balutan tank-top beserta rok mini.
    Mirisnya lagi, tak sedikit di antara mereka yang merokok.

    Tepat pukul 23.00 WIB, acara dimulai. Satu per satu mereka masuk ke dalam pub.
    Semakin malam semakin ramai dikunjungi ‘pemuja kehidupan malam’.
    Mata memejam, bibir terkatup, kepala bergoyang-goyang, kadang-kadang seolah berputar di bawah iringan musik disko hingar-bingar, serasa memecahkan gendang telinga dan merontokkan jantung.
    Di bawah udara pengap oleh asap rokok dengan bau khas yang menawarkan ekstasi, mereka tetap tak ambil risih dengan pengunjung sekitar (kaum bapak-bapak) yang juga terlihat hadir, malam itu.
    Pria dan wanita bercampur baur.
    Mulai dari minum, berjoget, bahkan hingga berpelukan bersama.

    “Ayo tambah minumnya. Malam ini kita happy,” celetuk Murni (nama sasaran) kepada beberapa rekan semejanya.


    Malam itu, Murni terlihat setengah mabuk.
    Disampingnya, ada seorang pria yang sedari awal telah menemani gadis belia itu.
    Tak lama, Murni mengajak pria itu bergoyang, mengikuti irama house music yang semakin keras berdentum.

    Dalam kondisi setengah sadar, Murni pun bergelayut di tubuh pria itu untuk bersandar.
    Pria itu pun mendekap tubuh Murni dengan sangat erat.
    Sejurus kemudian, pria yang kemudian diketahui sebagai pacar gadis tersebut pun mengajak Murni untuk kembali duduk ke tempat semula.
    Murni yang sudah sempoyongan, terlihat sudah tak sadarkan diri lagi.
    Tubuhnya pun jatuh dan dipapah sang pacar.

    Pandangan fantastis kembali terlihat di sebelah kiri pub.
    Persisnya, di dekat speaker box, tempat anak band pub, manggung.
    Sepasang anak Adam tak lepasnya berpelukan serta berjoget.
    Tak mudah untuk mendapatkan tempat tongkrongan di sana.
    Konsekuensinya, harus datang cepat, saat pub buka mulai pukul 23.00 WIB.
    Tak sedikit ABG-ABG menongkrongi tempat ekslusif itu, sedari awal untuk menunggu tamu-tamu pria.
    Di sana, mereka sepertinya bebas melakukan apa saja.

    Begitulah salah satu fenomena yang terjadi pada ABG Kota Padang hari ini.
    Istilahnya, clubbing, kini menjadi semacam tren bahkan kebutuhan primer bagi kalangan ABG.
    Tak gaul, bila tak datang ke pub.
    Pub menjadi tempat pelarian suntuk oleh para ABG.
    Bahkan disinyalir, pub sebagai tempat transaksi seks dan narkoba.

    Bukan rahasia umum lagi, diskotek hingga saat ini, masih dihinggapi stigma negatif dengan kelas sosial rawan psikotropika, narkotika, dan obat-obatan berbahaya.
    Padahal di situ berkumpul generasi penerus bangsa, segmen pasar paling potensial untuk dijadikan klien para pengedar ekstasi, sabu, dan sebagainya. (san)


    Hujan bapuhun, paneh ba asa, kato bamulo:

    Masalah:
    1. Si Maya, si Laura, Laras dan Murni itu, bekerja sebagai pelacur, pelonte atau mendekatinya.
    Maya punya anak usia 5 tahun yang harus dibiayainya sedangkan Laura belum punya beban hidup akan tetapi malas bekerja. Murni, mungkin mahasiswi atau pelajar nan tak tau diuntuang/indak baradat, entahlah.
    Mereka orang-orang bodoh yang hanya ingin hidup mewah menikmati galeh Belando dan Japang (bekas penjajah nenek-kakeknya) berupa barang-barang konsumtif yang dipromosikan agen-agen mereka di televisi (selebritis); pakaian bermerek, rambut harus dicuci tiga kali sehari dengan obat ketombe, kulit bersun screen, sepatu, tas bermerek dari Paris, kuping disumpal sepanjang hari dengan perangkat headphone, naik-turun Toyota, Honda lalu ke luar masuk hotel berbintang dsb.
    Karena tak mampu menghasilkan uang untuk membeli galeh urang maka terpaksalah menjual diri.
    Seandainya si Maya berasal dari suatu "nagari" maka dipastikan mamak si Maya orang yang tak mampu pula untuk mengurus/membiayai kamanakannya
    Pemecahan masalah: Polisi P.P Bukittinggi perlu mengembalikan/menyerahkan si Maya ke nagarinya (sesuai dengan alamat KTP).
    Serahkan kepada mamaknya. Kalau si mamak tak mampu memberi pekerjaan maka masyarakat nagari perlu membantunya.
    Janganlah bolehkan Maya menjual diri dekat kampuangnya agar pekerjaan serupa ini tidak dianggap normal, apalagi dijadikan model/ditiru oleh ABG lainnya.
    Kalaulah melacur itu pilihan pekerjaan Maya, silakan pergi bekerja di rantau dakek yang ada diformalkan dengan sebutan sebagai Pekerja Sex Komersial atau ke rantau jauah semisal ka Phuket, Macao, Belanda dan jangan sekali-kali diakui lagi sebagai anak-kamanakan/anak nagari sepanjang adat oleh Urang kampuang. Jadilah marantau Cino, indak usah mangaku-ngaku sebagai urang awak lai !
    Usul: Masyarakat, khususnya pers agar tidak menggunakan istilah PSK untuk menyebut pelacur, lonte, begenggek, telembuk, lontong bagi wanita-wanita semacam ini di Sumbar.
    Pekerja adalah orang terhormat yang mendapatkan penghasilannya tidak dengan menjual diri (menjual ginjal atau darah saja dilarang), apapun alasannya. Bekerja sebagai pelacur di hotel berbintang dengan segala kemewahannya bukanlah prestasi yang dibanggakan untuk anak-kamanakan kita, akan tetapi kehinaan bagi kaum-kerabat yang akan disebut-sebut di kemudian hari.

    2. Turis asing, hotel, cafe dan pub adalah empat istilah yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
    Apakah anak nagari yang ber ABS-SBK bisa/mampu mengadaptasi keempat istilah ini sekaligus seperti yang dilakukan penduduk kampung Cina Bukittinggi dan Padang.
    Bila tidak bisa/sanggup maka uang yang dihasilkan oleh industri pariwisata yang dipromosikan pemerintah hanya akan bertumpuk/terkumpul di Kampuang Cina

    Pemda di Sumatera Barat yang dikuasakan rakyat untuk memberi ijin mendirikan hotel-hotel agar berani bertanggung jawab apabila terjadi pelacuran di tempat-tempat tersebut.

    Masih ada (banyak ..!) indusri lainnya yang bisa dikembangkan selain industri pariwisata yang telah dipromosikan besar-besaran di ranah nan den cinto kalau saja kita memiliki ilmu dan wawasan untuk keselamatan anak-cucu/kamanakan.

    Referensi fakta:
    40 % wisatawan AS yang ke Filipina adalah wisatawan sex (newsticker Metro TV 23 Sept. 2011)
    ....menurut pengakuan SS pada ANTARA, dia telah bekerja selama tujuh bulan di Kota Padang, sebagai penari Striptis, di dua kafe berbeda, yaitu di Fellas dan Happy Family.
    Setiap kali melakukan atraksi striptisnya, SS mengaku menerima bayaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. (ANT-276/Z002)

    3. Adanya taksi yang menjajakan pelacur di kota Padang sejak lama, mustahil tidak bisa dilacak oleh aparat yang berwenang (Polisi negara dan Polisi PP) maka pertanyaannya ada apa di balik hal ini ?

    4. Ingat kemarahan/peringatan Allah, ... gempa, tsunami bisa terjadi dalam semenit ke depan, nauzu billahi min zalik.


    Link dengan situs-situs Dialektika, Logika dan Sistematika serta Toko Buku.
    nan AMPEK I ||   anggt. DPR-DPRD ||   Syair Berhaji ||   RASO-PARESO ||   Kisah PRRI ||   PITARUAH AYAH || WISRAN HADI
    Situs komunitas nagari.org mulai dibangun th. 2002, 2003 BPNK, 2005-v2, 2007-v3. All Right Reserved, Contact and Info : info@nagari.or.id
    This site support for MSIE 5.5+, Flash 5+, JavaScript, 800 x 600 px